Unsur - unsur Intrinsik Fiksi, Khusus Fakta Cerita, Sarana Cerita dan Tema

 

1. Unsur - Unsur Intrinsik Fiksi

Unsur intrinsik dalam cerita fiksi adalah kemampuan kesanggupan seseorang untuk menguasai unsur unsur yang membangun suatu kesatuan, kebulatan kesatuan, dan regulasi diri atau membangun sebuah struktur.

Unsur-unsur itu bersifat fungsional, artinya dicipta pengarang untuk mendukung maksud secara keseluruhan dan maknanya ditentulan oleh keseluruhan cerita itu.

Terkait dengan unsur-unsur intrinsik dalam karya sastra, Robert Stanton membagi unsur-unsur fiksi menjadi tiga unsur utama, yaitu fakta, sarana cerita, dan tema. Fakta cerita dalam sebuah karya sastra meliputi alur, tokoh dan penokohan, dan latar. Kemudian, sarana sastra meliputi judul, sudut pandang, gaya dan tone, simbolisme, dan ironi. Sedangkan, tema merupakan sesuatu yang menjadi dasar cerita. Tema merupakan makna cerita, gagasan sentral, atau dasar cerita. Ada di bagian lain dinyatakan bahwa unsur-unsur pembangun fiksi, yaitu: (1) tokoh; (2) alur; (3) latar; (4) judul; (5) sudut pandang; (6) gaya dan nada; dan (7) tema (Stanton dalam Wiyatmi, 2006: 30).

a) Khusus Fakta Cerita

   Menurut Stanton Page 8 (2012:22), fakta cerita adalah elemen-elemen yang berfungsi sebagai catatan kejadian imajinatif dari sebuah cerita. Fakta cerita terdiri atas karakter (character), alur (plot), dan latar (setting). yang berlangsung dalam cerita.

Fakta cerita dalam sebuah karya sastra meliputi alur, tokoh dan penokohan, dan latar.

1. Plot/Alur

Alur cerita mengungkapkan peristiwa yang terjalin dalam hubungan sebab akibat. Alur cerita tidak berupa peristiwa saja, tetapi lebih sebagai unsur-unsur dalam suatu rangkaian cerita. Alur merupakan konstruksi yang dibuat mengenai sebuah deretan peristiwa secara logik dan kronologik saling berkaitan dan diakibatkan atau dialami oleh para pelaku. Peristiwa di sini diartikan sebagai peralihan dari keadaan yang satu ke keadaan yang lain (Luxemburg, dkk, 1986: 149). Artinya, dari peristiwa yang satu menyebabkan terjadinya peristiwa kedua. Dari situ, kemudian berkembang menjadi konflik dan klimaks yang pada dasarnya ditentukan oleh peristiwa pertama.

 Herman J. Waluyo (2006:11) mengemukakan bahwa alur atau plot sering juga disebut kerangka cerita, yaitu jalinan cerita yang disusun dalam urutan waktu yang menunjukkan hubungan sebab dan akibat dan memiliki kemungkinan agar pembaca menebak-nebak peristiwa yang akan datang.

2. Tokoh dan Penokohan

Istilah tokoh dan penokohan merunuk pada pengertian yang berbeda. Terminologi tokoh merujuk pada orangnya, pelaku cerita. Sedangkan penokohan dan karakteristik merujuk pada tokoh-tokoh dengan watak tertentu dalam suatu cerita. Jones mengatakan bahwa penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Nurgiantoro (2007:165) menjelaskan tokoh cerita adalah orang yang muncul dalam suatu karya naratif ditafsirkan oleh pembaca memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu dalam ucapan dan tindakan.

Dengan demikian istilah "penokohan" menurut Nurgiyantoro (2007:166) memiliki arti yang lebih luas dibandingkan "tokoh" karena ia tak hanya masalah siapa tokoh cerita, tetapi juga bagaimana watak, penempatan dan visualisasinya dalam sebuah cerita sehingga memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan sekaligus menyaran pada teknik perwujudan dan penggembangan tokoh dalam sebuah cerita. Sejalan dengan itu dapat disimpulkan tokoh dan penokohan dalam cerita rakyat yaitu, penokohan adalah penempatan tokoh dengan watak tertentu dalam sebuah cerita rakyat.

3. Latar

1. Latar Waktu

Latar waktu merupakan salah satu macam-macam latar cerita yang harus dimuat dalam sebuah karya sastra. Sesuai dengan namanya yakni latar waktu, maka di latar ini menggambarkan waktu di mana peristiwa di dalam cerita tersebut berlangsung. Latar waktu juga kembali dibagi menjadi dua jenis yakni latar eksplisit dan latar implisit.

a. Latar Eksplisit

Latar eksplisit di dalam jenis pengertian latar cerita adalah latar waktu yang dijabarkan secara jelas di dalam sebuah cerita pada karya sastra. Biasanya, latar waktu eksplisit dituliskan dengan menyebutkan tanggal dan jam terjadinya peristiwa tersebut. Misalnya: Lina sudah berusaha menghubungi Dinda pada 7 Oktober 2020 pada pukul 18.00 WIB.

b. Latar Implisit

Sementara itu, latar implisit merupakan latar waktu yang tidak disebutkan secara langsung dan terperinci di dalam cerita tersebut dan juga tidak dituliskan kapan kejadian tepatnya. Biasanya, latar waktu implisit ini ditulis dengan kalimat: pada suatu hari, ketika itu, saat matahari terbit, saat matahari terbenam, dan lain sebagainya.

Dikutip dari buku Pengkajian Prosa Fiksi (Edisi Revisi) (2017) karya Andri Wicaksono, latar adalah bagian cerita atau landas tumpu yang mengacu pada masalah tempat dan waktu terjadinya peristiwa, serta lingkungan sosial yang digambarkan untuk menghidupkan peristiwa.

2. Latar tempat

Macam-macam pengertian latar cerita yang selanjutnya adalah latar tempat. Latar tempat menunjukkan lokasi terjadinya suatu peristiwa. Sama halnya seperti latar waktu, latar tempat juga dibagi atau bisa dijelaskan di dalam sebuah cerita dengan dua cara, yakni latar tempat eksplisit dan latar tempat implisit.

a. Latar Eksplisit

Latar eksplisit di dalam latar tempat biasanya dijelaskan secara detail dan jelas. Misalnya: Ayah sudah sampai di Bandara Adi Sucipto.

b. Latar Implisit

Sementara itu, latar implisit di dalam latar tempat tidak dijelaskan dan tidak dituliskan dengan jelas, melainkan hanya menuliskan gambaran tempat saja. Misalnya: Orang itu tinggal di sebuah gubuk tak berjendela.

3. Latar Suasana

Macam yang selanjutnya yakni latar suasana. Latar suasana merupakan salah satu macam-macam latar cerita yang menunjukkan bagaimana kondisi batin tokoh atau pelaku di dalam cerita. Di latar suasana ini biasanya juga memuat bagaimana situasi dan kondisi lingkungan tokoh tersebut berada.

Meski demikian, latar suasana ini kebanyakan tidak dijelaskan atau dituliskan secara detail dan gamblang pada sebuah cerita. Latar suasana biasanya disampaikan secara deskriptif di dalam sebuah karya sastra. Misalnya ketika tokoh di dalam cerita tersebut merasa terpuruk dan sedih, penulis tidak menggambarkannya dengan menulis bahwa tokoh tersebut sedih.

 

b) Sarana Cerita

Selain fakta cerita, sebuah prosa juga dibangun berdasarkan sarana cerita. Sarana cerita merupakan unsur-unsur yang terdapat dalam rangkaian cerita. Unsur tersebut menjadikan sebuah peristiwa di dalamnya menjadi menarik. Unsur yang terdapat dalam sarana cerita yakni sebuah rangkaian peristiwa yang disebut dengan pengisahan dan suasana dalam cerita. Sarana cerita adalah cara-cara pengarang memilih dan mengatur butir-butir cerita sehingga tercipta bentuk-bentuk yang sanggup mendukung makna (Staton dalam Pradopo dkk., 1985: 23). Sarana cerita pada dasarnya merangkum judul, pusat pengisahan, simbol, ironi, humor, suasana, dan gaya (Pradopo dkk., 1985: 23).Stanton (2012:46) mengatakan sarana cerita merupakan teknik yang digunakan oleh pengarang untuk memilih dan menyusun detil-detil cerita (peristiwa dan kejadian) menjadi pola yang bermakna.

Tujuan penggunaan sarana cerita adalah untuk memungkinkan pembaca melihat fakta sebagaimana yang dilihat pengarang, menafsirkan makna fakta sebagaimana yang ditafsirkan pengarang, dan merasakan pengalaman seperti yang dirasakan pengarang.

Sarana cerita pada umumnya meliputi judul, sudut pandang, gaya

1. Judul

 Judul dalam sebuah karya fiksi tidak harus merangkum keseluruhan isi, tetapi menceritakan dan menggambarkan isi saja sudah cukup. Lebih penting dari itu, judul juga harus menimbulkan sebuah pertanyaan yang membuat calon pembaca tertarik untuk lebih jauh membaca isi buku tersebut.

2. Sudut pandang

 Sudut pandang ialah cara penulis dalam memandang atau menempatkan dirinya dalam sebuah cerita. Sudut pandang merujuk pada sebuah cerita yang dikisahkan. Ia merupakan cara atau pandangan yang digunakan oleh pengarang sebagai sarana untuk menyajikan cerita fiksi kepada pembaca, Sudut pandang dalam teks fiksi mempersoalkan: siapa yang menceritakan atau dari posisi mana (siapa) peristiwa dan tindakan itu dilihat. Sudut pandang, point of view, menunjuk pada cara sebuah cerita dikisahkan.

3. Gaya

   Gaya bahasa adalah cara pengarang menguraikan cerita yang telah dia buat. Atau definisi gaya bahasa yaitu cara pengarang cerita mengungkapkan isi pemikirannya mmelalui bahasa-bahasa yang khas sehingga bisa menimbulkan suatu kesan tertentu.

c) Tema

      Tema merupakan dasar gagasan, ide, pokok, pikiran yang dituangkan pengarang dalam karyanya, baik secara tersurat maupun secara tersirat.

Tema berfungsi sebagai dasar pengembangan seluruh cerita. Oleh karena itu, tema terkait dengan seluruh bagian cerita. Secara prinsip, tema terdiri atas dua macam, yaitu tema utama merupakan makna tambahan yang menyokong dan mencerminkan makna pokok cerita. Tema merupakan suatu gagasan sentral, sesuatu yang hendak diperjuangkan dalam suatu tulisan atau karya fiksi. Tema adalah inti permasalahan yang hendak dikemukakan pengarang dalam karyanya. Oleh sebab itu, tema merupakan hasil konklusi dari berbagai peristiwa yang terkait dengan penokohan dan latar. Jadi dapat disimpulkan bahwa tema, yaitu suatu pokok atau inti persoalan yang mendasari suatu cerita. Untuk menemukan sebuah tema dalam sebuah karya fiksi, ia haruslah disimpulkan dari keseluruhan cerita, tidak hanya berdasarkan bagian-bagian tertentu dari cerita walau tema sulit ditemukan secara pasti

 

Komentar