TEORI SASTRA

 

1.    Hakikat dan teori sastra

Sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yang

merupakan gabungan dari kata sas berarti mengarahkan, mengajarkan dan

memberi petunjuk. Kata sastra tersebut mendapat akhiran tra yang

biasanya digunakan untuk menunjukkan alat atau sarana. Sehingga, sastra

berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk atau pengajaran. Sebuah kata

lain yang juga diambil dari bahasa Sansekerta adalah kata pustaka yang

secara luas berarti buku (Teeuw, 1984: 22-23).

Sastra merupakan suatu kegiatan kreatif dalam seni yang erat

kaitannya dengan realitas kehidupan. Karya sastra muncul dengan

perpaduan kenyataan dan kreatifitas pengarang. Karya sastra merupakan

hasil imajinasi manusia yang mengambil kehidupan manusia sebagai

sumber inspirasinya. Menurut Ratna (2005:312), hakikat karya sastra

adalah rekaan atau yang lebih sering disebut imajinasi. Imajinasi dalam

karya sastra adalah imajinasi yang berdasarkan kenyataan. Hal ini sejalan

dengan pendapat Endraswara (2011: 78) yang menyatakan bahwa karya

sastra merupakan ekspresi kehidupan manusia yang tak lepas dari akar

masyarakatnya. Karya sastra sebagai suatu potret kehidupan yang berisi

tentang cerminan kehidupan nyata yang menimbulkan sifat sosial pada diri

manusia. Karya sastra tercipta dari masalah di masyarakat yang menarik untuk dituangkan dalam tulisan kreatif dan imajinatif. Meskipun pada

hakikatnya karya sastra adalah rekaan, karya sastra dikonstruksi atas dasar

kenyataan.

Menurut pandangan Sugihastuti (2007: 81-82) karya sastra

merupakan media yang digunakan oleh pengarang untuk menyampaikan

gagasan-gagasan dan pengalamannya. Karya sastra juga dapat

merefleksikan pandangan pengarang terhadap berbagai masalah yang

diamati di lingkungannya.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa

karya sastra adalah sebuah karya seni yang menggambarkan realitas

kehidupan yang dituangkan dalam tulisan kreatif untuk menyampaikan

gagasan pengarang. Oleh karena itu, karya sastra sering dijadikan sebagai

media untuk menyampaikan pengalaman orang lain maupun pengalaman

pengarang sendiri.

 

2.    Kritik sastra

Istilah kritik mempunyai bentuk criticism, critica, dan Ia critique. Kata "kritik" berasal dari bahasa Yunani krite's berarti "seorang hakim", krinein berarti "menghakimi", kriterion berarti "dasar penghakiman", kritiko's (dalam bhasaa Indonesia kritikus) berarti "hakim kesusastraan". Kritik sastra merupakan salah satu cabang studi sastra yang penting dalam kaitannya dengan ilmu sastra dan penciptaan sastra. Dalam bidang keilmuan sastra, kritik sastra tidak terpisahkan dengan cabang studi sastra lain, yaitu teori sastra dan sejarah sastra (Wellek dan Warren, 1968:39)

Dalam bidang penciptaan sastra, kritik sastra yang merupakan cabang studi sastra yang berhubungan langsung dengan karya sastra yang konkret itu (Wellek,1978:35) mempunyai peranan penting dalam pengembangan sastra (Pradopo,1967:13)

Kritik sastra ialah studi sastra yang berusaha menyelidiki karya sastra dengan langsung menganalisis, menginterpretasi, memberi komentar, dan memberikan penilaian.

Teori kritik sastra sudah ada di Indonesia sejak peraturan Balai Pustaka yang membatasi corak tulisan pada penulis atau sastrawan Indonesia yang menulis untuk diterbitkan oleh Balai Pustaka, yang terkenal dengan Nota Rinkes (Teeuw,1955:57,59) bertahun 1911, yaitu (karangan) harus bersikap netral mengenai keagamaan, memenuhi syarat tentang budi pekerti, ketertiban dan politik (Teeuw,1955,59-60)

Sebelum sastra Indonesia resmi lahir telah ada sastra yang mendahuluinya. Sastra- sastra tersebut adalah:

1) karya-karya sastra yang dapat digolongkan sastra Indonesia modern yaitu roman student Hidjo (1911) karangan Mas Marco Kartodikusumo dan Hikayat Kadirun (1920), Karangan Semaun (Teeuw,1967:15-16)

2) sastra Melayu Cina (abad ke-19 dan awal abad ke-20)

3) sastra Hindia Belanda yang ditulis oleh para sastrawan indo Belanda dengan bahasa Belanda

Kritik sastra Indonesia yang berupa tradisi lisan, yaitu komentar-komentar atau uraian-uraian tentang karya sastra secara lisan yang tidak mempergunakan teori kritik yang tersusun secara sistematik. Dalam sastra Melayu ada tulisan yang dapat digolongkan kritik sastra yaitu tulisan-tulisan Nuruddin Ar raniri, tapi rupanya kritik ini tidak berkembang sebagai kritik sastra karena kritiknya cenderung bersifat dakwah agama Islam untuk menyerang tulisan-tulisan (buku-buku) ahli-ahli agama yang berlawanan madzhab dengannya dan menyerang buku-buku sastra yang tidak bersifat Islam. Kritik sastra Indonesia dinyatakan oleh Mursal esteen dalam pengantarnya sebagai kumpulan tulisan dan makalah.

Teori sastra

Adalah bidang studi sastra yang berhubungan dengan teori kesusastraan, seperti studi tentang apakah kesusastraan itu, bagaimana unsur-unsur atau lapis-lapis normanya. Studi tentang jenis sastra (genre) yaitu apakah jenis sastra dan masalah umum yang berhubungan dengan jenis sastra, kemungkinan dan kriteria untuk membedakan jenis sastra.

3.    Sejarah sastra

Sejarah sastra adalah sejarah perkembangan sastra. Dalam hal ini, maka sejarah perkembangannya adalah sastra yang ada di Indonesia.

Angkatan Pujangga Lama

Sejarah sastra pada angkatan pujangga lama ini terjadi sebelum abad ke-20. Pada masa angkatan pujangga lama tersebut, berbagai karya sastra didominasi dengan syair, pantun, gurindam, hikayat, dan lain sebagainya. Bahkan hingga saat ini, jenis sastra pada angkatan pujangga lama masih sering digunakan sebagai syarat pada acara adat.

Misalnya juga pada karya sastra yang berupa hikayat, biasanya akan dibacakan sebagai hiburan dan juga sebagai pelipur lara untuk membantu membangkitkan semangat dari pembaca atau pendengarnya. Hal ini karena biasanya hikayat mengisahkan kehebatan atau kepahlawanan dari seseorang.

a)      Angkatan Balai Pustaka

Setelah angkatan pujangga lama, masuk ke era angkatan Balai Pustaka. Angkatan Balai Pustaka ini juga berkembang pada tahun 1920-an, yang mana pengarang pada masa itu sudah memiliki keinginan yang luhur untuk dapat memberikan pendidikan budi pekerti agar mampu mencerdaskan kehidupan bangsa melalui sebuah bacaan.

Pada angkatan Balai Pustaka ini, biasanya karya sastra yang diciptakan menggunakan tema yang selaras dengan budaya yang saat itu berlangsung, salah satunya mengenai kawin paksa yang memang saat itu sedang marak terjadi dan juga dilakukan oleh masyarakat secara mayoritas dan bahkan seolah menjadi kebudayaan bagi suatu daerah tertentu.

b)      Angkatan Pujangga Baru

Selanjutnya adalah memasuki masa pujangga baru yang mana angkatan Pujangga Baru ini berlangsung sejak 1933 hingga 1942. Angkatan Pujangga Baru ini mulai didirikan sejak Juli 1933 bersamaan dengan terbitnya majalah dengan nama Pujangga Baru. Pada angkatan Pujangga Baru ini, ciri khas karya sastra yang menonjol adalah bertema romantis.

Tema romantis pada angkatan sastra Pujangga Baru ini bisa ditulis di berbagai jenis karya sastra, akan tetapi umumnya pada prosa maupun puisi. Tema yang digunakan pada angkatan ini juga tidak hanya melulu mengenai kawin paksa, seperti yang sebelumnya pernah terjadi.

Akan tetapi, pada masa ini tema yang digunakan sudah bergeser dan biasanya mengangkat mengenai masalah kehidupan manusia atau masyarakat pada era modern. Ada beberapa novel yang populer pada masa atau era angkatan Pujangga Baru, misalnya seprti di bawah ini:

– Belenggu karya Armijn Pane yang menceritakan mengenai kedudukan suami dan istri dalam hubungan berumah tangga.

– Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana yang menceritakan mengenai bagaimana kedudukan manusia, dan lain sebagainya.

 

c)      Angkatan ‘45 atau Angkatan Kemerdekaan

Selanjutnya masuk ke angkatan ‘45 atau yang juga disebut angkatan Kemerdekaan. Masa ini berlangsung pada 1942 sampai 1945, yang mana pada masa tersebut, telah bangkit dan juga terintegrasi berbagai jenis sastra yang ada di Indonesia. Berbagai karya sastra yang berkembang pada periode ini juga lebih beragam.

Tak hanya itu, pada periode ini, karya sastra yang diciptakan lebih realistis jika dibandingkan dengan karya sastra pada angkatan-angkatan sebelumnya. Di periode ini, karya sastra biasanya mengangkat adanya berbagai masalah sosial, misalnya korupsi, penyelewengan, ketidakadilan, dan lain sebagainya.

d)     Angkatan ‘50-an

Periode angkatan ‘50-an ini biasanya ditandai dengan terbitnya sebuah majalah sastra yang berjudul Kisah oleh H.B Jassin. Majalah tersebut berhasil bertahan hingga 1946 dan berlanjut dengan majalah sastra yang lainnya. Ciri khas yang dimiliki oleh periode sastra angkatan ‘50-an adalah karya sastra yang didominasi oleh cerita pendek. Selain cerita pendek karya, sastra yang mendominasi pada angkatan ’50-an anatara lain merupakan kumpulan puisi, yang jenis karya sastra tersebut juga dimuat di dalam majalah kisah yang memuat berbagai cerpe dan juga puisi

e)      Angkatan ‘66

Masuk ke periode atau angkatan ‘66, dimulai dengan terbitnya sebuah majalah sastra yaitu Horizon. Majalah Horizon ini merupakan satu-satunya majalah sastra yang terbit di Indonesia yang mana hampir seluruh halamannya berisi tentang karya sastra. Tak heran juga para sastrawan menganggap majalah tersebut sebagai standar perkembangan sastra di Indonesia. Majalah Horizon tersebut lalu menjadi sasaran tuntutan dalam adanya majalah sastra di priode-priode selanjutnya

f)       Angkatan ‘80-an

 Periode selanjutnya adalah pada angkatan ‘80-an yang mana pada masa ini merupakan perkembangan karya sastra yang ditandai dengan beragam sastra yang mengisahkan roman percintaan dan kemudian disebarluaskan melalui majalah dan juga penerbitan umum. Sastrawan yang menonjol di periode tersebut misalnya Mira W dan Marga T. Karya. Mereka meciptakan karya sastra dengan bentuk fiksi yang romanntis dan memiliki tokoh utama yaki seorang perempuan.

g)      Angkatan Reformasi hingga Sekarang

Periode terakhir pada sastra adalah periode angkatan reformasi hingga sekarang, yang awalnya ditandai dengan munculnya berbagai karya sastra seperti puisi, cerpen, maupun novel dengan berbagai genre atau tema. Biasanya, tema yang diangkat pada periode sekarang ini seputar reformasi atau yang berkaitan dengan realita sosial yang terjadi di masyarakat.

4.    Jenis teori,kritik dan sejarah sastra

a.      Teori Sastra

Dalam ilmu sastra dikenal sepuluh jenis teori sastra. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing teori tersebut.

1. Teori Struktural

Teori struktural adalah teori sastra yang digunakan dalam menganalisis sebuah karya sastra berdasarkan pada strukturnya. Teori ini memandang sebuah karya sastra sebagai suatu hal yang berdiri sendiri dan terlepas dari penyusun maupun pembacanya.

Bagian dari karya sastra yang dianalisis dalam teori struktural adalah berkenaan dengan unsur intrinsik karya sastra yang meliputi tema, tokoh dan penokohan, alur atau plot, setting atau latar, serta sudut pandang yang digunakan penulis dalam menyusun karyanya.

2. Teori Psikologi Sastra

Teori psikologi sastra digunakan dalam menganalisis unsur kejiwaan atau batiniah dari sebuah karya sastra atau menganalisis karya sastra berdasarkan pada sudut pandang psikologi. Menurut Hardjana (1991:60), fungsi psikologi dalam karya sastra adalah untuk menyelami atau menjelajahi batin tokoh-tokoh yang terdapat dalam karya sastra guna mengetahui lebih jauh mengenai seluk beluk dari tindakan manusia dan juga responnya atas tindakan lainnya.

3. Teori Kepribadian Abdul Aziz Ahyadi

Teori kepribadian digunakan untuk menganalisis aspek kepribadian dalam sebuah karya sastra, baik itu kepribadian tokoh-tokohnya maupun kepribadian sistem sosial kemasyarakatan yang dibahas dalam karya sastra.

4. Teori Sosiologi Sastra

Teori ini digunakan untuk menganalisis sebuah karya sastra dengan berdasarkan pada segi kemasyarakatan. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa seorang pengarah adalah bagian dari sebuah masyarakat yang ia berinteraksi dengan mereka. Sementara itu, kepribadian manusia akan dipengaruhi diantaranya oleh sistem budaya dan lingkungan dimana dia tumbuh. Dengan demikian, struktur sosial seorang penulis atau pengarang karya sastra tentu akan mempengaruhi karya sastra yang dibuatnya.

5. Teori Sastra Feminis

Teori sastra feminis memiliki pandangan bahwa karya sastra adalah cerminan dari realitas sosial yang patriarki. Tujuannya adalah untuk mengungkap adanya anggapan patriarki yang tersirat dalam sebuah karya sastra melalui citra perempuan yang digambarkan di dalamnya.

Selanjutnya, teori sastra feminis juga berkembang sebagai kajian mengenai sastra perempuan atau yang dikenal dengan istilah ginokritik.

 

6. Resepsi Sastra

Resepsi sastra merupakan kualitas keindahan yang muncul sebagai akibat dari adanya hubungan antara karya sastra dengan pembaca karya tersebut. Teori ini mengkaji mengenai hubungan antara karya sastra dengan resepsi atau penerimaan pembaca terhadapnya. Menurut teori ini, makna dari sebuah karya sastra hanya dapat dipahami dari melihat efek atau dampak yang ditimbulkan oleh karya sastra tersebut terhadap pembacanya.

7. Teori Marxis

Diantara ideologi utama yang berkembang di dunia adalah ideologi Marxisme. Diantara pandangan ideologi ini adalah kepercayaan bahwasanya sosio ekonomi adalah penentu dari suatu kehidupan. Dalam kaitannya dengan sastra, teori ini menekankan adanya keterkaitan antara sosio ekonomi, sejarah, dan budaya sehingga sebuah karya sastra akan senantiasa dipengaruhi oleh keadaan sosial ekonomi masyarakat.

8. Teori Sastra Poskolonial

Teori sastra poskolonial adalah seperangkat teori yang mengkaji karya sastra berkaitan dengan praktik kolonialisme dan imperialisme. Teori ini menganggap bahwa sebuah karya sastra memiliki kemampuan untuk membentuk sebuah hegemoni kekuasaan dan juga sebaliknya bisa menjadi kekuatan untuk melawan hegemoni tersebut.

9. Teori Stilistika

Teori stilistika dalam karya sastra adala teori yang mengkaji tentang penggunaan gaya bahasa dalam sebuah karya sastra. Teori ini berdasarkan pada pandangan bahwasanya sastra sendiri memiliki keindahan bahasa dan juga makna atau pesan yang ada di dalamnya.

Kajian teori stilistika sendiri dilakukan dengan menggunakan pendekatan objektif yang menfokuskan perhatiannya pada penggunaan gaya bahasa dalam karya sastra.

10. Teori Semiotik

Menurut Hoed (1992:2), semiotik adalah ilmu yang menganalisis atau mengkaji mengenai tanda. Teori semiotik menganggap bahwa bahasa adalah merupakan sebuat sistem tanda yang mewakili makna tertentu. Teori ini mengkaji karya sastra dari sisi tanda-tanda atau lambang yang ada dalam bahasa yang digunakan dalam sebuah karya sastra.

 

 

 

 

 

b.     Jenis-Jenis Kritik Sastra

Berdasarkan dengan pendekatan yang digunakan terhadap karya sastra, jenis-jenis kritik sastra dibedakan menjadi beberapa macam.

1. Kritik Sastra Mimetik

Kritik sastra mimetik ini bertolak pada pandangan bahwa suatu karya sastra yaitu mengenai gambaran atau rekaan dari lingkungan kehidupan dan kehidupan manusia.

2.Kritik Sastra Pragmatik

Selanjutnya, kritik sastra pragmatik melihat dari kegunaan suatu karya sastra yang kemudian diteliti dari bidang hiburan, estetika, pendidikan, dan hal lainnya.

3. Kritik Sastra Ekspresif

Sementara itu, kritik sastra ekspresif menekankan analisis pada kemampuan pengarang di dalam mengekspresikan atau menuangkan idenya di dalam wujud sastra. Biasanya pendekatan kritik sastra ini digunakan untuk mengkaji karya sastra puisi.

4.Kritik Sastra Objektif

Kritik sastra objektif adalah pendekatan untuk melihat karya sastra sebagai karya yang berdiri sendiri. Artinya, karya sastra menjadi objek yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai lingkungan kehidupan sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

5.    Manfaat teori,kritik ,san sejarah sastra

Manfaat teori kritik sastra

Untuk memberikan uraian dan penerangan tentang karya sastra yang konkret, baik mengenai makna karya sastra, strukturnya maupun nilainya. Dalam kritik sastra perlu diuraikan penafsiran (interpretasi), penguraian (analisis), dan penilaian (evaluasi), ketiganya merupakan aspek kritik sastra yang utama yang paling erat terjalin dalam aktivitas penerapan kritik pada karya sastra.

Sejarah sastra

Kritik sastra tidak dapat dilepaskan dari perkembangan kemasyarakatan, dalam arti gagasan-gagasan masyarakat pun turut berbicara dalam persoalan sastra pada khususnya, kebudayaan pada umumnya. Sesudah Perang Dunia II, lebih-lebih sesudah berdirinya Lekra (17 Agustus 1950), berkembang sastra dan kritik sastra realisme sosialis yang didukung oleh para tokoh sastrawan dan tokoh-tokoh masyarakat beraliran komunisme. Sejarah sastra adalah studi sastra yang memberikan lahirnya kesusastraan Indonesia modern, sejarah sastra membicarakan sejarah jenis sastra, periode-periode sastra, dan sebagainya.

6.    Fiksionalitas karya sastra

A. Fiksi

Fiksi adalah cerita atau latar yang berasal dari imajinasi dengan kata lain, tidak secara ketat berdasarkan sejarah atau fakta. Fiksi bisa diekspresikan dalam beragam format, termasuk tulisan, pertunjukan langsung, film, acara televisi, animasi, permainan video, dan permainan peran. Walaupun istilah fiksi ini awalnya lebih sering digunakan untuk bentuk sastra naratif, termasuk novel, novella, cerita pendek, dan sandiwara. Fiksi biasanya digunakan dalam arti paling sempit untuk segala "narasi sastra".

Karya fiksi merupakan hasil dari imajinasi kreatif, jadi kecocokannya dengan dunia nyata biasanya diasumsikan oleh audiensnya. Kebenaran dalam karya fiksi tidak harus sejalan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata, misalnya kebenaran dari segi hukum, moral, agama, logika, dan sebagainya. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata bisa saja terjadi di dunia fiksi.

Fiksionalitas karya sastra tidak beda jauh dengan karya fiksi, yaitu unsur imajinasi atau khayalan yang ada di dalam karya satra itu sendiri, seperti prosa, puisi, dan drama yang di mana ketika membuat ketiga karya itu banyak menggunakan imajinasi atau khayalan penulis atau pengarang.

1. Bagian-Bagian Fiksi (Gendre)

Fiksi pada umumnya terbagi menjadi sejumlah genre: bagian-bagian dari fiksi, masing-masingnya dibedakan oleh gaya, teknik naratif, isi media, atau kriteria yang didefinisikan secara populer. Meskipun sebuah karya tergolong imajiner tetapi ia memiliki golongan yang disebut Fiksi Non-fiksi (Nonfiction Fiction), yakni sebuah bentuk karya fiksi yang dasar ceritanya merupakan sebuah fakta. Yang termasuk kedalam Fiksi Non-fiksi adalah:

Fiksi sejarah (Historical fiction), adalah fiksi yang dasar penulisannya merupakan sejarah. Novel ini terikat oleh fakta-fakta sejarah, tetapi fiksi ini memberikan ruang gerak untuk fiksionalitas, misalnya dengan memberitakan pikiran dan perasaan tokoh lewat percakapan. Sebagai contoh adalah Bendera Hitam dari Kurasan dan Tentara Islam di Tanah Galia karya Darji Zaidan.

Fiksi ilmiah (Science fiction), adalah fiksi yang dasar penulisannya adalah fakta ilmu pengetahuan. Sebagai contoh novel ini adalah 1984, karya George Orwell. Genre ini misalnya, memprediksi atau mengandaikan teknologi yang bukan realita pada saat penciptaan karya tersebut: novel Jules Verne From the Earth to the Moon diterbitkan pada tahun 1865 dan pada tahun 1969, astronot Neil Armstrong pertama kali mendarat di bulan.

Fiksi biografis (Biographical fiction), adalah fiksi yang dasar penulisannyaadalah fiksi biografis. Karya biografis juga memberikan ruang bagi fiksionalitas, misalnya yang berupa sikap yang diberikan oleh penulis, di samping juga munculnya bentuk-bentuk dialog. Sebagai contoh karya biografis adalah Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams, Kuantar Kau ke Gerbang dan Tahta untuk Rakyat.

B. Karya Satra

Karya sastra adalah ciptaan yang disampaikan dengan komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estetika. Karya-karya ini sering menceritakan sebuah kisah, dalam sudut pandang orang ketiga maupun orang pertama, dengan plot dan melalui penggunaan berbagai perangkat sastra yang terkait dengan waktu mereka.. yang termasuk dalam kategori Sastra adalah:

C. Prosa

Prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin "prosa" yang artinya "terus terang". Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya.prosa juga dibagi dalam dua bagian, yaitu prosa lama dan prosa baru, prosa lama adalah prosa bahasa indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat, dan prosa baru ialah prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apa pun. Adapun jenis-jenis prosa sebagai berikut:

1. Prosa Lama

Prosa lama merupakan karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat. Karya sastra prosa lama yang mula-mula timbul disampaikan secara lisan, disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan. Contoh prosa lama yaitu hikayat, sejarah, kisah, dongeng, dan cerita berbingkai

2. Prosa Baru

Prosa baru adalah karangan prosa yang timbul setelah mendapat pengaruh sastra atau budaya Barat. Contoh prosa baru antara lain roman, novel, cerpen, riwayat, kritik, resensi, dan esai.

D. Puisi

Puisi adalah sebuah seni tertulis. Puisi merupakan karya sastra seseorang dalam menyampaikan pesan melalui diksi dan pola tertulis. Penyair adalah orang yang membuat atau menciptakan puisi. Dalam bentuk seni ini, seorang penyair menggunakan bahasa untuk menambah kualitas estetis pada makna semantis.

Menurut KBBI puisi adalah:

Ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait

Gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus

E. Sajak

Jenis-Jenis Puisi

Puisi Lama

Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain:

Jumlah kata dalam 1 baris, Jumlah baris dalam 1 bait, Persajakan (rima), Banyak suku kata tiap baris, Irama

Ciri puisi lama:

Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya, Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan, Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima. Contoh puisi lama antara lain mantar,pantun, karmina, seloka, gurindam, syair, dan talibun.

Puisi Baru

Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.

Ciri-ciri Puisi Baru:

Bentuknya rapi, simetris, Mempunyai persajakan akhir (yang teratur), Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain, Sebagian besar puisi empat seuntai, Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis), Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar): 4-5 suku kata. Contoh puisi baru antara lain balada, himne, ode, epigram, romansa, elegi, dan satire.

F.Drama

Drama merupakan genre (jenis) karya sastra yang menggambarkan kehidupan manusia dengan gerak. Drama menggambarkan realita kehidupan, watak, serta tingkah laku manusia melalui peran dan dialog yang dipentaskan. Kisah dan cerita dalam drama memuat konflik dan emosi yang secara khusus ditujukan untuk pementasan teater. Naskah drama dibuat sedemikian rupa sehingga nantinya dapat dipentaskan untuk dapat dinikmati oleh penonton. Drama memerlukan kualitas komunikasi, situasi dan aksi. Kualitas tersebut dapat dilihat dari bagaimana sebuah konflik atau masalah dapat disajikan secara utuh dan dalam pada sebuah pementasan drama.Adapun Struktur dalam drama yaitu:

Struktur drama memuat babak, adegan, dialog, prolog dan epilog. Babak merupakan istilah lain dari episode. Setiap babak memuat satu keutuhan kisah kecil yang menjadi keseluruhan drama. Dengan kata lain, babak merupakan bagian dari naskah drama yang merangkum sebuah peristiwa yang terjadi di suatu tempat dengan urutan waktu tertentu.

Adegan merupakan bagian dari drama yang menunjukkan perubahan peristiwa. Perubahan peristiwa ini ditandai dengan pergantian tokoh atau setting tempat dan waktu. Misalnya, dalam adegan pertama terdapat tokoh A sedang berbicara dengan tokoh B. Kemudian mereka berjalan ke tempat lain lalu bertemu dengan tokoh C, maka terdapat perubahan adegan di dalamnya.

Dialog merupakan bagian dari naskah drama yang berupa percakapan antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Dialog adalah bagian yang paling dominan dalam drama. Dialog adalah hal yang membedakan antara drama dengan jenis karya sastra yang lain.

Prolog dan epilog merupakan bingkai dari sebuah drama. Prolog merupakan pengantar untuk masuk ke dalam sebuah drama. Isinya adalah gambaran umum mengenai drama yang akan dimainkan.[4]

Sementara epilog adalah bagian terakhir dari pementasan drama. Isinya merupakan kesimpulan dari drama yang dimainkan. Epilog biasanya memuat makna dan pesan dari drama yang dimainkan.

Komentar

Postingan Populer