genre sastra klasik
1. Genre
sastra klasik Nusantara.
Satra lama Indonesia yang biasa diistilahkan sebagai sastra
klasik dapat diartikan sebagai karya sastra yang memakai bahasa Melayu.
Penggunaan bahasa Melayu ialah bahasa yang dipakai sebagai pangkal bahasa
Indonesia. Sastra klasik juga dapat diartikan sebagai karya yang dihasilkan
oleh sastrawan yang berada pada zaman kerajaan atau masa ketika belum adanya
pengerakan nasional (Siti Gomo 2018:1).
Hasil sastra lama itu cukup besar jumlahnya, sebagai contoh
di Musium Nasional Jakarta saja naskah Melayu itu terdaftar sebanyak 953 naskah
(lihat Sutaarga 19972). Data terakhir 2013, Perpustakaan Nasional RI memiliki
total koleksi data primer berupa naskah Nusantara sebanyak 10.613.
Hasil sastra Melayu klasik ditulis dengan tangan pada kertas
dan diperbanyak dengan menyalin. Tulisan-tulisan pada kertas inilah yang
disebut naskah. Dalam bahasa Inggris disebut manuscript sedang dalam bahasa
Belanda disebut handsschrif. Keberuntungan bagi kita Bangsa Indonesia karena
naskah telah diwariskan oleh nenek moyang kita berupa naskah yang banyak
tersimpan di beberapa museum sehingga bis akita baca dan teliti isinya.
Dalam berbagai catatan ditemukan pertama kali sastra Melayu
klasik dengan menggunakan bahasa Melayu kuno yang berasal dari abad ke-7 M
bahkan sastra tersebut tercantum pada beberapa prasasti peninggalan Kerajaan
Sriwijaya di bagian Selatan Sumatera dari Wangsa Syailendra di berbagai tempat
di Jawa Tengah. Tulisan ini menggunakan aksara Paliawa. Bukti-bukti lain
ditemukan pada abad ke-16M.
2.
Karakteristik sastra klasik Nusantara
a. Anonim
Anonim dalam artian tidak diketahui siapa pengarangnya, ini
disebabkan karena tempo dulu tidak banyak orang yang mengejar popularitas
sehingga pengarangnya lebih fokus untuk menyajikan maha karya yang
menitikberatkan pada fungsi cerita. Beberapa contoh dari karya sastra melayu
klasik pada umumnya terdapat di setiap
cerita-cerita klasik, seperti “Hikayat Hang Tuah”, “Hikayat Raja Indra”,
“Hikayat Indra Bangsawan”, “Hikayat Malim Demam”
b. Bertema Istana sentris
Jenis ceritanya berlatar belakang istana. Tokohnya biasanya
raja atau pangeran yang sakti dan kisahnya mengenai percintaan. Akhir cerita
selalu bahagia. Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : “Bercerita” 10
Pengertian Menurut Para Ahli & ( Jenis – Manfaat – Tujuan )
c. Bernilai budaya lokal
Ciri yang ketika dari karya sastra melayu klasik adalah penciptaan
karya sastra melayu klasik biasanya mengusung budaya lokal, sehingga dari
Cerita kaya sastra melayu klasik pembaca bisa mendapat gambaran moral
masyarakat yang hidup pada jaman dulu.
d. Disebar secara lisan
Ciri yang berikutnya ialah disebarkan secara lisan. penyebab
utamanya adalah pergerakan zaman dahulu
sangatlah lambat jika dibandingkan dengan konvoi masyarakat di zaman modern
ini. Oleh karena itu, penyebaran budaya dan cerita secara lisan akan lebih mempercepat
tersebarnya cerita dibandingkan dengan menggunakan media tulisan. Selain itu,
melalui budaya lisan, masyarakat juga mampu lebih intens memberikan nilai-nilai
positif nan terdapat di dalam cerita sehingga pesan moral yang terdapat di
dalamnya akan sampai kepada pendengar dengan lebih cepat dan efektif.
e. Didaktis
Memberikan pesan mendidik kepada masyarakat baik pesan moral
maupun pesan keagamaan atau religius.
f. Tradisional
Mempertahankan kebiasaan masyarakat jaman dulu atau adat
istiadat.
g. Klasik imitatif
Bersifat tiruan atau kebiasaan tiru-meniru yang
turun-menurun.
h. Universal
Dapat berlaku dimana saja, kapan saja, siapa saja.
3.
Contoh-Contoh Teks/ Lisan Sastra
Klasik Nusantara
a. Berbentuk puisi
Karya sastra klasik dalam bentuk puisi juga memiliki berbagai
macam jenis. Diantaranya adalah;
*Mantra
Mantra adalah rangkaian kata yang mengandung rima danirama
yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh seorang dukun
atau pawang untuk melawan atau menandingi kekuatan gaib lainnya. Namun, hakikat
mantra itu sendiri adalah doa yang diucapkan oleh seorang pawang dalam keadaan
trance ‘kerasukan’. Di dalam mantra yang penting bukan makna kata demi kata,
melainkan kekuatan bunyi yang bersifat sugestif.
Contoh mantra:
Pulanglah engkau kepada rimba sekampung,
Pulanglah engkau kepada rimba yang besar,
Pulanglah engkau kepada gunung guntung,
Pulanglah engkau kepada sungai yang tiada berhulu,
Pulanglah engkau kepada kolam yang tiada berorang,
Pulanglah engkau kepada mata air yang tiada kering,
Jikalau kau tiada mau kembali, matilah engkau.
*Talibun
Talibun adalah sejenis puisi lama seperti pantun yang
mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris (mulai dari 6 baris
hingga 20 baris). Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dan seterusnya.
Contoh Talibun :
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanakpun cari
Induk semang cari dahulu.
*Seloka
Seloka merupakan bentuk puisi
Melayu Klasik, berisikan pepetah maupun perumpamaan yang mengandung senda
gurau, sindiran bahkan ejekan. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk
pantun atau syair, terkadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari
empat baris.
Contoh seloka 4 baris:
Anak pak dolah makan lepat,
makan lepat sambil melompat,
nak hantar kad raya dah tak
sempat,
pakai sms pun ok wat?
Contoh seloka lebih dari 4 baris:
Baik budi emak si Randang
Dagang lalu ditanakkan
Tiada berkayu rumah diruntuhkan
Anak pulang kelaparan
Anak dipangku
diletakkan
Kera dihutan disusui
b. Berbentuk Prosa
Seperti halnya
prosa dalam sastra modern, prosa dalam karya sastra klasik juga mempunyai
unsur-unsur tokoh, penokohan, alur, latar, setting, amanat, dan teman.
Karya sastra
klasik yang berbentuk prosa terdiri dari cerita, cerita binatang, sejarah,
mite, dan legenda.
Jenis prosa
lama:
Prosa sastra
melayu klasik juga memiliki berbagai macam jenisnya, diantaranya yaitu;
*Dongeng
Dongeng adalah
cerita-cerita zaman purba yang berbentuk prosa yaitu tentang cerita khayal dan
penuh keajaiban. Dongeng ini disampaikan dari mulut kemulut.
*Mite
Mite berasal
dari bahasa Yunani, mythos yaitu tentang kehidupan makhluk halus atau hantu
seperti jin, kuntilanak, dan dewi-dewi.
Misalnya: Si
Kelambai, dan Setan Penanggalan
*Fabel
Fabel ialah
dongeng yang menceritakan binatang yang hidup sebagai manusia berbuat dan
berbicara seperti binatang. Pada umumnya fabel mempunyai tendens didaktis.
Fabel ini sangat terkenal di Indonesia. Di tiap-tiap daerah mempunyai
pelaku-pelaku binatang yang berlainan. Di Jawa dan di Melayu dipusatkan pada
planduk (kancil), di Sunda pada kura-kura, di Toraja pada kera hantu.
Contoh: Hikayat
Sang Kancil
*Legenda
Legenda ialah
dongeng yang berisikan tentang cerita terjadinya nama-nama tempat, gunung,
sungai, danau, dan sebagainya.
Misalnya: Danau
Gunung Tangkuban Perahu, Terjadinya Danau Toba, Terjadinya Danau Maninjau.
*Sage
Sage ialah
dongeng yang mengandung unsur sejarah. Misalnya: Hang tuah Joko Tingkir.
*Hikayat
Berasal dari
bahasa Arab, yang berarti cerita. Hikayat ini mirip dengan dongeng, penuh
khayal, isinya tentang kehidupan sekitar istana, oleh karena itu dapat disebut
dongeng istana. Pelaku utama dalam hikayat adalah raja, permaisuri, putra raja
yang gagah berani, serta putrinya yang canti jelita.
Hikayat Melayu:
Hikayat hang Tuah
*Sejarah atau
Silsilah
Penulis sejarah
dalam sastra lama ialah pegawai istana, yang berisikan tentang asal usul raja
dan kejadian-kejadian penting, adat istiadat.
4. Situasi Bahasa Genre Sastra
Klasik Nusantara
Sastra Melayu mengalami perkembangan dan
penciptaan yang saling mempengaruhi antara satu periode dengan periode yang
lain. Sastra Melayu berkembang pesat pada jaman Islam dan sesudahnya, karena
tema-tema yang diangkat seputar kehidupan masyarakat Melayu, meskipun beberapa
ada pengaruh asing. Sebelum jaman Islam, konteks penceritaannya lebih
berorientasi ke wilayah di luar Melayu, yaitu India dengan latar belakang
kebudayaan Hindu.
Sastra Melayu Klasik adalah sastra yang
hidup dan berkembang di daerah Melayu pada masa sebelum dan sesudah Islam
hingga mendekati tahun 1920-an di masa Balai Pustaka. Masa sesudah Islam
merupakan zaman dimana sastra Melayu berkembang begitu pesat karena pada masa
itu banyak tokoh Islam yang mengembangkan sastra Melayu.
Kesusastraan Melayu sebelum Islam tidak
ada nuansa Islam sama sekali dan bentuknya adalah sastra lisan. Isi dan bentuk
sastranya lebih banyak bernuansa animisme, dinamisme, dan Hindu-Budha, dan
semua hasil karya tersebut dituangkan dalam bentuk prosa dan puisi. Untuk
puisi, tampak tertuang ke dalam wujud pantun, peribahasa, teka-teki, talibun,
dan mantra. Bentuk yang terakhir ini (mantra), sering dikenal dengan jampi
serapah, sembur, dan seru. Sedangkan bentuk prosa, tampak tertuang dalam wujud
cerita rakyat yang berisi cerita-cerita sederhana dan berwujud memorat (legenda
alam gaib yang merupakan pengetahuan pribadi seseorang), fantasi yang
berhubungan dengan makhluk-makhluk halus, hantu dan jembalang.
Perkembangan kesusastraan Melayu sesudah
kedatangan Islam ditandai dengan penggunaan Huruf Arab yang kemudian disebut
Tulisan Jawi atau Huruf Jawi, yang dalam perkembangannya dikenal dengan istilah
Arab Melayu. Hal ini dikarenakan masyarakat Melayu merasa bahwa tulisan
tersebut telah menjadi milik dan identitasnya. Huruf Jawi ini diperkenalkan
oleh para pendakwah Islam untuk membaca al-Qur`an dan menelaah berbagai jenis
kitab dari berbagai disiplin ilmu. Perkembangan penulisan ini sangat pesat
karena Islam memperbolehkan semua orang untuk menulis dalam berbagai bidang.
Komentar
Posting Komentar