kaidah sastra
1. KAIDAH SASTRA
Waluyo, (1994: 56-58) mengatakan bahwa kaidah sastra atau daya tarik sastra terdapat pada unsur-unsur karya sastra tersebut. Pada karya cerita fiksi, daya tariknya terletak pada unsur ceritanya yakni cerita atau kisah dari tokoh-tokoh yang diceritakan sepanjang cerita yang dimaksud. Selain itu, faktor bahasa juga memegang peranan penting dalam menciptakan daya pikat. Kemudian gayanya dan hal-hal yang khas yang dapat menyebabkan karya itu memikat pembaca. Khusus pada cerita fiksi, ada empat hal lagi yang membantu menciptakan daya tarik suatu cerita rekaan, yaitu:
1) kreativitas
2) tegangan (suspense)
3) konflik
4) jarak estetika
. Bahasa Indonesia memiliki kaidah ejaan dan pembentukan istilah yang sudah distandarkan, kaidah pembentukkan kata yang sudah tepat itu dianggap sudah baku, namun dalam pelaksananya(kehidupan sehari-hari) patokan itu belum mantap. Masih banyak orang yang bertanya-tanya berbahasa Indonesia yang baik dan benar itu yang bagaimana? Orang yang berbahasa, dengan maksud hati mencapai sasarannya, apapun jenisnya dianggap sudah berbahasa dengan efektif.Pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa itulah yang disebut bahasa yang baik dan benar.Bahasa yang harus mengenai sasarannya tidak selalu perlu beragam baku. Dalam kegiatan tawar-menawar kegelian. Oleh karena itu mungkin saja kita berbahasa yang baik tapi belum tentu benar.Anjuran agar kita berbahasa yang baik dan benar dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan yang disamping itu mengikuti kaidah bahasa yang baik.
2. BAHAN BAKU TEKS SASTRA
Seorang pengarang atau sastrawan dalam pembuatan karya sastra Juga perlu mengolah bahan baku untuk menghasilkan karya sastra. bahan baku karya sastra adalah bahasa. Sastrawan mengolah bahasa agar menjadi indah dan bernilai seni. Sebab, keindahan itulah yang menyebabkan karya sastra disebut karya seni, yaitu seni sastra. Cara sastrawan menggunakan bahasa untuk menulis karya sastra berbeda dengan cara penulis lain untuk menghasilkan karya ilmiah. Penulis karya ilmiah bertujuan menyampaikan gagasan kepada pembaca. Karena itu, kata-kata yang dipilih dalam rakitan kalimatnya dibuat sedemikian rupa agar pembaca karya ilmiah dapat cepat menangkap dan memahami gagasan penulis. Lain halnya dengan sastrawan. Sastrawan menulis bukan hanya untuk menyampaikan gagasan kepada pembaca, melainkan juga menyampaikan perasaannya.
3. PERKEMBANGAN DEFINISI TEKS SASTRA
Yang dimaksud dengan teks sastra adalah teks-teks yang disusun dengan tujuan artistik dengan menggunakan bahasa. Bahasa yang digunakan terdiri atas bahasa lisan dan bahasa tulis. Oleh karena itu, ada sastra lisan dan ada pula sastra tulis. Kajian ini berfokus pada kajian sastra tulis. Teks sastra berdasarkan ragamnya terdiri atas beberapa genre. Klasifikasi genre sastra itu didasarkan atas dasar kategori situasi bahasa. Berdasarkan situasi bahasa itulah sastra diklasifikasikan atas teks puisi, teks naratif atau prosa, dan teks drama.
4. BAHASA SASTRA VS BAHASA KESEHARIAN
Bahasa sastra menggunakan bahasa kedua, sedangkan bahasa ke seharian menggunakan bahasa pertama. Karena bahasa sastra adalah bahasa yang digunkan oleh para sastrawan untuk membuat beberapa buku, menggunakan bahasa baku, dan pemilihan beberapa kata dan kalimat. Sedangkan bahasa keseharian menggunakan bahasa yang tidak menggunakan bahasa baku atau bahasa percakapan yang sering dilakukan oleh orang lain atau masyarakat.
5. BAHASA SASTRA VS BAHASA ILMIAH
Karya sastra dapat dinikmati sampai kapanpun meskipun berbeda zaman , karena terkandung nilai-nilai yang masih relevan untuk dipelajari atau dipraktikkan. Sedangkan nonsastra (ilmiah) akan berkembang terus menerus dari waktu ke waktu. Bahasa sastra adalah bahasa yang bersifat khayal/imajinatif atau subjektif karena sastra dciptakan oleh pengarang, dan pengarang tersebut memiliki hak penuh dalam menciptakan suatu karya sastra. Sedangkan bahasa ilmiah (nonsastra yang lebih bersifat nyata atau objektif). Karena hasil karya imliah dapat diperoleh berdasarkan fakta-fakta yang sudah ada dan disepakati kebenarannya secara umum.
6. KARAKTERISTIK BAHAN BAKU TEKS SASTRA
Karakteristik bahasa memiliki bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan konteks penggunaannya. Purwadarminto membedakan bahasa menjadi beberapa macam yaitu, ragam bahasa umum dan ragam bahasa khusus. Ragam bahasa umum adalah ragam bahasa yang biasa digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari oleh manusia dalam suatu masyarakat. Ragam bahasa khusus dikelompokan menjadi beberapa macam, yaitu ragam bahasa jurnalistik, ragam bahasa jabatan, ragam bahasa ilmiah, dan ragam bahasa sastra. Semuanya memiliki karakteristik atau ciri-ciri yang berbeda-beda. Misalnya, ragam bahasa jurnalistik memiliki ciri-ciri singkat, padat, sederhana, lugas, jelas, jernih, menarik, demokratis, populis, logis, gramatikal, menghindari kata tutur, menghindari kata dan istilah asing, pilihan kata (diksi) yang tepat, menggunakan kalimat aktif, menghindari kata atau istilah teknis, dan tunduk pada etika dan kaidah yang berlaku di masyarakat.
7. HAKIKAT TEKS SEBAGAI ILMU (TEKSTOLOGI)
Dari segi bahasa, tekstologi bisa diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang teks. Lalu, jika dikaji lebih luas lagi, tekstologi tidak hanya mempelajari tentang teks saja, tapi juga seluk beluk tentang bahasa meliputi sejarah teks dalam sebuah karya sastra. Dalam teori lain, Prof. Oman pernah mengemukakan jika tekstologi itu hampir sama dengan filologi. Yang mana, kedua ilmu tersebut mempelajari bagaimana sejarah serta prosesterjadinya teks sehingga muncul dalam bentuk tulisan. Kendati terkesan sama, namun hakikatnya kedua ilmu tersebut memiliki. Hal ini dapat dilihat dari cakupan ilmu masing-masing. Di mana, tekstologi lebih mempelajari proses 8 terjadinya teks serta silsilah penurunannya dalam sebuah karya yang berupa tulisan. Salah satu tokoh literasi yang bernama De Haan (dalam Baried, 1994:58) mengemukakan bahwa teks bisa terjadi akibat beberapa kemungkinan, diantaranya:
1. Aslinya teks itu hanya ada dalam ingatan pengarang atau pembawa cerita, atau tukang cerita. Setiap terjadi penurunan teks maka akan terjadi variasi teks.
2. Aslinya berupa teks tertulis yang masih memungknkan berubahan, atau karena memerlukan kebebasan seni.
3. Aslinya merupakan teks yang tidak mengizinkan kebebasan dalam pembawaanya.
Sedangkan menurut Lichacev dalam Undang. A Darsa:2015 mengemukakan bahwa tekstologi adalah ilmu yang mempelajari tentang seluk-beluk teks, meliputi penjelmaan dan penurunan teks dalam sebuah naskah, penafsiran, serta pemahamannya. Jadi, bila disimpulkan, arti dari tekstologi adalah ilmu yang mempelajari tentang teks secara mendalam pada karya sastra, meliputi sejarah terjadinya teks, proses terjadinya teks, serta bagaimana pelafalan itu menjadi sebuah teks yang bisa tersusun rapi menjadi naskah atau bacaan.
8. CIRI KHAS SUATU TEKS
Teks disebut juga bacaan. Bacaan terdiri dari beberapa paragraph. Paragraph terdiri dari beberapa kalimat. Paragraph merupakan salah satu unit terkecil dari sebuah karangan yang terdiri atas kalimat utama atau gagasan utama dan sebuah kalimat pelengkap atau gagasan penjelas. Paragraph yang baik harus memiliki beberapa criteria berikut.
1) Memiliki satu ide pokok atau satu pikiran utama dan beberapa pikiran penjelas.
2) Antar kalimat harus saling berkaitan (berkoherensi) sehingga membentuk satu kesatuan.
3) Dalam melengkapi unsure teks, kita harus memperhatikan koherensi.
Koherensi sangat perlu penataan urutan kalimat yang sistematis. Tanpa urutan baik, koherensi tidak akan diperoleh. Penanda koherensi antara lain pengulangan kata atau frasa kunci, kata ganti, konjungsi antar kalimat, dan situasi. Konjungsi antar paragraph pada dasarnya sama dengan konjungsi antarkalimat. Kita harus menentukan kalimat gagasan utama dari beberapa kalimat yang ada. Kalimat gagasan utama menggunakan kata-kata bermakna umum. Setelah itu, barulah kita mencari kata kunci dari setiap kalimat. Kata kunci tersebut digunakan untuk menentukan gagasan utama.
9. JENIS JENIS TEKS DALAM KAIDAH TEKSTOLOGI
Dalam penjelmaan dan penurunannya, secara garis besar dapat disebutkan adanya tiga macam teks, yaitu:
1. teks lisan (tidak tertulis);
2. teks naskah tulisan tangan;
3. teks cetakan (Baried, 1985:56).
Kalau kita lihat berdasarkan perkembangannya, teks yang pertama ada adalah teks lisan, teks lisan lahir dari cerita-cerita rakyat yang diturunkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi melalui tradisi mendongeg, cerita-cerita rakyat yang pernah dituturkan disalin ke sebuah tulisan dengan menggunakan alat dan bahan yang sangat sederhana dan serta menggunakan aksara dan bahasa daerahnya masing-masing. Teks naskah tulisan tangan ini masih tradisional, setelah ditemukannya mesin cetak dan kertas oleh bangsa Cina maka perkembangan teks pun menjadi lebih maju, pada masa ini orang tidak harus susah-susah menyalin sebuah teks, tetapi teks-teks sangat mudah diperbanyak dengan waktu yang tidak lama maka lahirlah teks-teks cetakan.
10. KAIDAH SASTRA DALAM KAJIAN TEKSTOLOGI
Baried (1985:57), menyebutkan ada sepulih prinsip Lichacev yang dapat dijadikan sebagai pegangan untuk penelitian tekstologi yang pernah diterakan terhadap karya-karya monumental sastra lama Rusia, diantaranya adalah:
1. Tekstologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki sejarah teks suatu karya.
2. Penelitian teks harus didahului dari penyuntingnya.
3. Edisi teks harus menggambarkan sejarah.
4. Tidak ada kenyataan tekstologi tanpa penjelasannya.
5. Secara metodis perubahan yang dilakukan sesuai dengan kenyataan.
6. Teks harus diteliti sebagai keseluruhan
7. Bahan-bahan yang mengiringi sebuah teks (dalam naskah) harus diikutsertakan dalam penelitian.
8. Perlu diteliti pemantulan sejarah teks sebuah karya dalam teks-teks dan monumen sastra lain.
9. Pekerjaan seorang penyalin dan kegiatan skriptoria-skriptoria tentu harus diteliti secara menyeluruh.
10. Rekontruksi teks tidak dapat menggantikan teks yang diturunkan dalam naskahnaskah.
Komentar
Posting Komentar