MENGAPA SUATU TEKS DISEBUT TEKS SASTRA PENGERTIAN SASTRA KARAKTERISTIK TEKS SASTRA
1.
Mengapa
suatu teks disebut teks sastra
Setelah menelusuri dari beberapa sumber,
teks sastra adalah teks yang disusun dengan tujuan artistik yang terdiri
dari bahasa lisan dan tulisan. Karena
itulahsastra terbagi menjadi dua yaitu, sastra lisan dan sastra tulis. Tujuan
artistik disini merujuk pada media ekspresi dalam teks sastra. Sastra biasya
berkaitan erat dengan gambaran kehidupan.
Jadi teks sastra termasuk karya sastra
yang meliputi bahasa sebagai mediumnya. Karya sastra ini bersifat menggambarkan
tentang kehidupan dengan segala keunikannya baik tentang cita-cita, keinginan
dan harapan, kekuasaan, penfabdian makna dan tujuan hidup.
Karena itulah teks sastra dipandang
sebagai sarana atau media pengungkapam dunia pengarang beserta ideologinya yang
kompleks dan menyeluruh melalui medium bahasa. Sastra merupakan ungkapan
pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikifan, perasaan, keyakinan, ide dan
semangat dalam bentuk karya seni yang dapat membangkitkan keindahan melalui
bahasa.
Teks sastra itu terdiri
dari :
1.
prosa
2. puisi
3. Sandiwara/
drama,
4. Novel
1. Prosa
Prosa
adalah sebuah karya sastra yang bentuk tulisannya bebas & tidak terikat
dengan berbagai aturan, seperti rima, diksi, irama, & lain-lainnya. Secara
bahasa ( Etimologis ), kata prosa berasal dari Bahasa latin “Prosa” artinya
terus terang. Dan Karya Sastra Prosa juga diartikan karya sastra yang dipakai
sebagai mendeskripsikan suatu fakta
Manfaat Prosa
Prosa juga bisa
dimanfaatkan sebagai Surat kabar, novel, majalah, ensiklopedia, surat kirim,
dan beragam jenis media lainnya.
Ciri-Ciri Prosa
a) Bentuknya
Bebas
b) Prosa
mempunyai bentuk yang tidak terikat oleh : baris, bait, suku kata, & irama.
c) Pada
umumnya bentuk prosa adalah sebuah rangkaian kalimat yang membentuk suatu
paragraf.
1. Contoh
: Dongeng, Hikayat, Novel & lainnya. Dan dapat disajikan sebagai bentuk
tulisan ataupun secara lisan.
2. Memiliki
Tema
Prosa sastra meliputi
prosa fiksi diantaranya :
·
dongeng
·
Cerifa pendek
·
novel
Kemudian juga ada prosa
nonfiksi diantaranya :
·
Biografi
·
Esai
2. Puisi
Puisi merupakan karya
sastra yang gaya bahasanya ditentukan oleh irama, rima, dan disusun menggunakan
bait. Penulisannya dengan gaya bahasa yang cermat dan pilihan kata yang tepat.
Sehingga orang memahaminya lewat penataan bunyi, irama, dan pemaknaan khusus.
Puisi mampu membuat
eksoresi dari pemikiran yang mempengaruhi perasaan dan meningkatkan imajinasi
panca indra dalam susunan yang berirama. Isi dari puisi merupakan catatan
penting yang dialami oleh manusia.
Puisi mengutamakan bunyi,
bentuk dan juga makna yang disampaikan yang mana makna sebagai bukti puisi baik
jika terdapat makna yang mendalam dengan memadatkan segala unsur bahasa.
Puisi merupakan bentuk
karya sastra dari hasil ungkapan dan perasaan penyair dengan bahasa yang
terikat irama, matra, rima, penyusunan lirik dan bait, serta penuh makna. Puisi
mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dalam
mengonsentrasikan kekuatan bahasa dengan struktur fisik dan struktur batinnya.
Puisi mengutamakan bunyi, bentuk dan juga makna yang disampaikan yang mana
makna sebagai bukti puisi baik jika terdapat makna yang mendalam dengan
memadatkan segala unsur bahasa.
3.
Sandiwara / Drama
Drama
yaitu jenis cerita, bisa dalam bentuk tertulis dan tidak tertulis yang lebih
sering dipentaskan daripada dibaca. Terdiri dari dialog antar pelaku drama.
Drama adalah genre
karya sastra berupa karangan yang menggambarkan atau mengilustrasikan realita kehidupan,
watak, dan tingkah laku manusia dimana kisah di dalamnya disampaikan melalui
peran dan dialog. Pendapat lain mengatakan pengertian drama adalah jenis karya
sastra yang meggambarkan suatu kisah, watak, da tigkah laku manusia melalui
peradan dialog yang ditampilkandi atas panggug dalam beberapa babak. Secara
etimologis, kata “drama” diadaptasi dari bahasa yunani, yaitu “draomai”
yang artinya bertindak,
berbuat. Kisah da cerita dalam drama megadug konflik da emosi yag bertujuan
untuk mempegaruhi orag yang melihat atau mendegar drama tersebut. Naskah drama
diperaka oleh aktor yag memilikikemampuaan untuk menyajikan konflikdan emosi
secara utuh.
Dalam drama terdapat
struktur alur yang tertata dan mengandung nilai seni yang tinggi. Dengan adanya
struktur alur tersebut, maka penonton dapat menikmati drama yang dipentaskan.
Berikut ini adalah struktur dalam drama:
1.
Babak atau Episode, yaitu
bagian dari naskah drama yang merangkum peristiwa yang terjadi di suatu tempat
dengan urutan waktu tertentu.
2.
Adegan, yaitu bagian dari
drama yang menunjukkan terjadinya perubahan peristiwa yang ditandai dengan
terjadinya pergantian setting waktu, tempat, dan tokoh.
3.
Dialog, yaitu percakapan
yang dilakukan oleh dua atau beberapa tokoh dalam drama. Dialog merupakan hal
utama yang membedakan drama dengan karya sastra lainnya
4.
Epilog, yaitu bagian
akhir dari sebuah drama dimana isinya menjelaskan
Unsur-Unsur Drama
Sama halnya dengan jenis
karya sastra lainnya, drama mengandung unsur-unsur penting di dalamnya yang
saling berhubungan. Adapun unsur-unsur drama adalah
a. Tema
b. Tokoh
c. Watak
d. Latar
e. Alamat
4. Novel
Novel
dikatakan teks sastra karena berbentuk prosa, yang kisahnya hasil imajinasi
yang membahas tentang permasalahan kehidupan seseorang atau berbagai tokoh.
Jadi,
dari rincian diatas dapat kita simpulkan bahwa teks sastra itu menggambarkan
manusia dengan berbagai persoalannya. Gaya penyajian teks sastra itu menarik,
berkesan dihati pembaca ataupun pendengarnya. Bahasa dalam teks sastra ini indah
dan tertata dengan baik. Maka dari itu, prosa, puisi, drama, dan novel
dikatakan teks sastra karna lebih banyak menggambarkan dan menggunakan bahasa
sebagai unsur keindahannya. Dan memiliki makna didalamnnya.
2. PENGERTIAN SASTRA
A.
Teeuw (1984) dan Luxebrug (1986) mengemukakan bahwa belum ada seorang pun yang
memberikan jawaban yang ketat untuk pernyataan tentang definisi sastra. Hal
senada di ungkap pula oleh B. Rahmanto (2002), sumianto A. Sayuti (2002), dan
seorang sastrawan malaysia, Ali Ahmad, dalam sebuah tulisan berjudul “Mencari
Definisi Kesusastraan”(dalam Hamzah Hamdani 1988:19-26. Karya sastra (puisi,
novel,cerpen,dan drama.) harus utuh artinya, setiap bagian atau unsur yang ada
padanya menunjang pada usaha pengungkapan isi hati sastrawan. Keseimbangan
ialah unsur-unsur atau bagian- bagian karya sastra, baik dalam unsur maupun
bobotnya, harus sesui atau seimbang dengan unsur lainnya. Lebih jauh Luxemburg
(1986:3-4) mengemukakan bahwa usul untuk mendefinisikan sastra banyak sekali
jumlahnya tetapi usul-usul yang memuaskan tidak banyak. Ia mengemukakan
alasan-alasannya sebagai berikut: (1) Sering orang ingin mendefinisikan terlalu
banyak sekaligus. Sering dilupakan bahwa ada suatu perbedaan antara sebuah
definisi deskriptif mengenai sastra—yang memberi jawaban terhadap pertanyaan:
sastra itu apa?—dan sebuah definisi evaluatif yang ingin menilai apakah suatu
karya sastra termasuk karya sastra yang baik atau tidak; (2) Sering orang
mencari sebuah definisi “ontologis” mengenai sastra, yaitu sebuah definisi yang
mengungkapkan hakikat sebuah karya sastra sambil melupakan bahwa sastra
hendaknya didefinisikan di dalam situasi para pemakai dan pembaca sastra; (3)
Yang berkaitan dengan itu, sering anggapan mengenai sastra terlalu ditentukan
oleh contoh sastra Barat, khususnya sejak zaman Renaissance, tanpa menghiraukan
bentuk-bentuk sastra yang khas seperti terdapat dalam lingkungan kebudayaan di
luar Eropa, di dalam zaman-zaman tertentu atau di dalam lingkungan sosial
tertentu. Misalnya, konsep tentang sastra yang diterapkan bagi zaman klasik
Eropa dan bagi lingkungan kebudayaan di luar Eropa sekaligus juga mau
diterapkan bagi lingkungan kebudayaan Eropa-Amerika modern; (4) Pernah
diberikan definisi-definisi yang kurang lebih memuaskan berkaitan dengan
sejumlah jenis sastra, tetapi yang kurang relevan diterapkan pada sastra pada
umumnya. Demikian misalnya disajikan sebuah definisi yang cocok bagi puisi,
sedangkan yang dicari ialah sebuah definisi yang tepat bagi sastra pada
umumnya.
Pendek
kata, dalam pandangan Luxemburg, pengertian-pengertian tentang sastra sendiri
sering dimutlakkan dan dijadikan sebuah tolok ukur atau parameter universal
padahal perlu diperhatikan kenisbian historis sebagai titik pangkal.
Menurut
Luxemburg (1986:9-11) tidak mungkin memberikan sebuah definisi yang universal
mengenai sastra. Sastra bukanlah sebuah benda yang kita jumpai, sastra adalah
sebuah nama yang dengan alasan tertentu diberikan pada sejumlah hasil tertentu
dalam suatu lingkungan kebudayaan. Luxemburg menyebut sejumlah faktor yang
mendorong para pembaca untuk menyebut teks ini sastra dan teks itu bukan
sastra. Sejumlah faktor itu adalah sebagai berikut: (1) yang dikaitkan dengan
pengertian sastra ialah teks-teks yang tidak melulu disusun atau dipakai untuk
suatu tujuan komunikatif yang praktis dan yang hanya berlangsung untuk
sementara waktu saja. Secara agak dibuat-buat hasil sastra dipergunakan dalam
situasi komunikasi yang diatur oleh suatu lingkungan kebudayaan tertentu; (2)
bagi sastra Barat dewasa ini kebanyakan teks drama dan cerita mengandung unsur
fiksionalitas; (3) puisi lirik tidak begitu saja kita namakan “rekaan”. Di sini
Luxemburg lebih suka menggunakan kategori konvensi distansi; (4) dalam sastra
bahannya diolah secara istimewa. Ini berlaku bagi puisi maupun prosa; (5)
sebuah karya sastra dapat kita baca menurut tahap-tahap arti yang
berbeda-beda…. Sejauh mana tahap-tahap arti itu dapat kita maklumi sambil
membaca sebuah karya sastra tergantung pada mutu karya sastra yang bersangkutan
dan kemampuan pembaca dalam bergaul dengan teks-teks sastra; (6) juga
karya-karya sastra yang bersifat nonfiksi dan yang juga tidak dapat digolongkan
pada puisi, karena ada kemiripan, digolongkan pada karya sastra; (7) terdapat
karya-karya yang semula tidak dianggap sebagai suatu karya sastra tetapi
kemudian dimasukkan ke dalam kategori sastra.
Sastra meurutut beberapa
pendapat ahli mengenai pengertian sastra :
1.
Sapardi Djoko Damono (1979)
Menurut Sapardi Djoko Damono, pengertia
sastra adalah sebuah lembaga sosial yang meggunakan bahasa sebagai medium
peyampainnya. Selain itu, sastra juga menampilkan gambaran tentang kehidupan
manusia dan kehidupan tersebut adalah suatu kenyataa sosial.
2.
Plato
Semetara Plato mengungkapkan bahwa sastra
merupakan hasil tiruan atau gambaran dari kenyataan atau mimesis. Hal tersebut
didalam karya satra harus merupakan bentuk teladan alam semesta sekaligus
menjadi model kenyataan kehidupan manusia sehari-hari.
3.
Taum (1997)
Sastra meurut Taum adalah bentuk karya
cipta atau fiksi yang bersifat imajinatif dan menggunakan bahasa yang indah
serta keberadaannya dapat berguna untuk hal-hal lai.
4.
Mursal Esten (1978)
Meurut Mursal Esten bahawa sastara
merupakan pengungkapan dari fakta artistik dan imajiatif sebagai perwuudan atau
manifestasi dari kehidupan manusia dan masyarakat. Dalam sastra, penyampaianya
biasanya menggunakan bahasa dan memiliki efek positif bagi kehidupan manusia.
5.
Atar Semi
Semi menuturkan bahwa sastra adalah suatu
betuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang obejeknya adalah manusia dan
kehidupannya menggunakan bahasa sebagai mediumnya
6.
Panuti Sudjiman
Panuti sudjiman mengungkapkan bahwa sastra
sebagai karya lisan atau tulisan yang memiliki berbagai ciri keunggulan seperti
keorisinilan, keartistikan, keindahan dalam isi, dan ungkapannya
7.
Ahmad Badrun
Ahmad Badru meuturkan bahwa sastra
merupakan kegiatan seni yang mempergunakan bahasa dan garis simbol-simbol lain
sebagai alat dan bersifat imajinatif.
8.
Robert Scholes
Robert Scholes menyatakan bahwa satra
adalah sebuah kata, bukan sebuah benda.
Sejarah Sastra
a.
Angkatan Pujangga Lama
Sejarah sastra pada
angkatan pujangga lama ini terjadi sebelum abad ke-20. Pada masa angkatan
pujangga lama tersebut, berbagai karya sastra didominasi dengan syair, pantun,
gurindam, hikayat, dan lain sebagainya. Bahkan hingga saat ini, jenis sastra
pada angkatan pujangga lama masih sering digunakan sebagai syarat pada acara
adat.
Misalnya juga pada karya
sastra yang berupa hikayat, biasanya akan dibacakan sebagai hiburan dan juga
sebagai pelipur lara untuk membantu membangkitkan semangat dari pembaca atau
pendengarnya. Hal ini karena biasanya hikayat mengisahkan kehebatan atau
kepahlawanan dari seseorang.
b.
Angkatan Balai Pustaka
Setelah angkatan pujangga
lama, masuk ke era angkatan Balai Pustaka. Angkatan Balai Pustaka ini juga
berkembang pada tahun 1920-an, yang mana pengarang pada masa itu sudah memiliki
keinginan yang luhur untuk dapat memberikan pendidikan budi pekerti agar mampu
mencerdaskan kehidupan bangsa melalui sebuah bacaan.
Pada angkatan Balai
Pustaka ini, biasanya karya sastra yang diciptakan menggunakan tema yang
selaras dengan budaya yang saat itu berlangsung, salah satunya mengenai kawin
paksa yang memang saat itu sedang marak terjadi dan juga dilakukan oleh
masyarakat secara mayoritas dan bahkan seolah menjadi kebudayaan bagi suatu
daerah tertentu.
c.
Angkatan Pujangga Baru
Selanjutnya adalah
memasuki masa pujangga baru yang mana angkatan Pujangga Baru ini berlangsung
sejak 1933 hingga 1942. Angkatan Pujangga Baru ini mulai didirikan sejak Juli
1933 bersamaan dengan terbitnya majalah dengan nama Pujangga Baru. Pada
angkatan Pujangga Baru ini, ciri khas karya sastra yang menonjol adalah bertema
romantis.
Tema romantis pada
angkatan sastra Pujangga Baru ini bisa ditulis di berbagai jenis karya sastra,
akan tetapi umumnya pada prosa maupun puisi. Tema yang digunakan pada angkatan
ini juga tidak hanya melulu mengenai kawin paksa, seperti yang sebelumnya
pernah terjadi.
Akan tetapi, pada masa
ini tema yang digunakan sudah bergeser dan biasanya mengangkat mengenai masalah
kehidupan manusia atau masyarakat pada era modern. Ada beberapa novel yang
populer pada masa atau era angkatan Pujangga Baru, misalnya seprti di bawah
ini:
– Belenggu karya Armijn
Pane yang menceritakan mengenai kedudukan suami dan istri dalam hubungan berumah
tangga.
– Layar Terkembang karya
Sutan Takdir Alisjahbana yang menceritakan mengenai bagaimana kedudukan
manusia, dan lain sebagainya.
d.
Angkatan ‘45 atau Angkatan
Kemerdekaan
Selanjutnya masuk ke
angkatan ‘45 atau yang juga disebut angkatan Kemerdekaan. Masa ini berlangsung
pada 1942 sampai 1945, yang mana pada masa tersebut, telah bangkit dan juga
terintegrasi berbagai jenis sastra yang ada di Indonesia. Berbagai karya sastra
yang berkembang pada periode ini juga lebih beragam.
Tak hanya itu, pada
periode ini, karya sastra yang diciptakan lebih realistis jika dibandingkan
dengan karya sastra pada angkatan-angkatan sebelumnya. Di periode ini, karya
sastra biasanya mengangkat adanya berbagai masalah sosial, misalnya korupsi,
penyelewengan, ketidakadilan, dan lain sebagainya.
e.
Angkatan ‘50-an
Periode angkatan ‘50-an
ini biasanya ditandai dengan terbitnya sebuah majalah sastra yang berjudul
Kisah oleh H.B Jassin. Majalah tersebut berhasil bertahan hingga 1946 dan
berlanjut dengan majalah sastra yang lainnya. Ciri khas yang dimiliki oleh
periode sastra angkatan ‘50-an adalah karya sastra yang didominasi oleh cerita
pendek. Selain cerita pendek karya, sastra yang mendominasi pada angkatan
’50-an anatara lain merupakan kumpulan puisi, yang jenis karya sastra tersebut
juga dimuat di dalam majalah kisah yang memuat berbagai cerpe dan juga puisi
f.
Angkatan ‘66
Masuk ke periode atau
angkatan ‘66, dimulai dengan terbitnya sebuah majalah sastra yaitu Horizon.
Majalah Horizon ini merupakan satu-satunya majalah sastra yang terbit di
Indonesia yang mana hampir seluruh halamannya berisi tentang karya sastra. Tak
heran juga para sastrawan menganggap majalah tersebut sebagai standar
perkembangan sastra di Indonesia. Majalah Horizon tersebut lalu menjadi sasaran
tuntutan dalam adanya majalah sastra di priode-priode selanjutnya
g.
7. Angkatan ‘80-an
Periode selanjutnya adalah pada angkatan
‘80-an yang mana pada masa ini merupakan perkembangan karya sastra yang
ditandai dengan beragam sastra yang mengisahkan roman percintaan dan kemudian
disebarluaskan melalui majalah dan juga penerbitan umum. Sastrawan yang
menonjol di periode tersebut misalnya Mira W dan Marga T. Karya. Mereka
meciptakan karya sastra dengan bentuk fiksi yang romanntis dan memiliki tokoh
utama yaki seorang perempuan.
1.
Angkatan Reformasi hingga Sekarang
Periode terakhir pada
sastra adalah periode angkatan reformasi hingga sekarang, yang awalnya ditandai
dengan munculnya berbagai karya sastra seperti puisi, cerpen, maupun novel
dengan berbagai genre atau tema. Biasanya, tema yang diangkat pada periode
sekarang ini seputar reformasi atau yang berkaitan dengan realita sosial yang
terjadi di masyarakat.
Jenis-jenis Sastra
Keberadaan sastra ini
memiliki dua jenis sastra yaitu karya sastra lama dan karya sastra baru. Di
bawah ini akan dijelaskan dua jenis sastra tersebut.
1.
Karya Sastra Lama
Karya sastra lama ini
lahir dan populer di masyarakat secara turun-temurun yang biasanya berisi
mengenai nasihat, ajaran agama,hingga ajaran moral. Karya sastra lama ini
diciptakan oleh nenek moyang dan disebarluaskan secara anonim dari mulut ke
mulut, sehingga tidak diketahui siapa penciptanya. ,Contoh jenis karya sastra
lama misalnya pantun, dongeng, hikayat, mitos, legenda, gurindam, dan lain
sebagiaya.
2.
Karya Sastra Baru
Jenis sastra selanjutnya
adalah karya sastra baru yang sudah mulai berbeda dari karya sastra lama. Karya
sastra baru ini tidak dipengaruhi adat atau kebiasaan masyarakat setempat, akan
tetapi lebih cenderung dipengaruhi oleh karya sastra bangsa Barat atau Eropa.
Karya sastra baru ini memiliki banyak genre yang mana sesui dengann realitas
sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Dan contoh jenis karya sastra baru
misalnya novel romantis, komik, dan lain sebaginya.
Fungsi Sastra
Tentu saja melihat
pengertian dan juga bagaimana jenisnya, sastra memiliki berbagai fungsi yang
secara langsung atau tidak langsung berpengaruh dalam kehidupan manusia.
Berikut ini adalah beberapa fungsi sastra menurut Kosasih (2012).
a)
. Fungsi Rekreatif
Karya sastra bertujuan
memberikan rasa senang, gembira, dan juga menghibur sehingga fungsi sastra
sebagai wadah rekreatif yang membuat pembacanya melupakan sejenak masalah
hidupnya.
b)
Fungsi Didaktif
Fungsi selanjutnya yakni
karya sastra memiliki sifat atau fungsi yang mendidik pembacanya mengenai hal
yang baik dan juga buruk, sehingga dapat mendapat pengetahuan baru dari karya
sastra tersebut.
c)
Fungsi Estetis
Fungsi estetis ini
maksudnya memberikan nilai keindahan di dalam karya sastra dan yang digunakan
di dalam karya sastra.
d)
Fungsi Moralitas
Karya sastra memiliki
nilai moral yang tinggi yang mana sebagai bentuk dukungan moralitas atas
keyakinan, kasih sayang, menghargai, dan lain sebagainya.
e)
Fungsi Religiusitas
Terakhir, karya sastra
juga berfungsi sebagai sarana yang bisa dijadikan teladan bagi pembacanya karena
memuat tentang ajaran agama.
Struktur Sastra
Karya sastra memiliki
beberapa struktur yang terdiri dari beberapa hal di bawah ini.
1.
Unsur Intrinsik dan
Ekstrinsik Puisi
Karya sastra memiliki
struktur unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik yang terdapat di dalam puisi yang
mana unsur tersebut merupakan struktur pembangun puisi, yang mana unsur
intrinsik secara langsung membangun cerita di dalam karya tersebut, dan unsur
ekstrinsik merupakan unsur pembangun di luar karya sastra. Unsur intrisik dalam
puisi terdiri dari tema amanat, sikap atau nada, tipografi, citraan, rima,
perasaan, dan gaya bahasa. Utuk ekstrinsik di dalam puisi misalnya biografi,
kesejaraha, dann sosial.
2.
Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik
Prosa
Sama halnya dengan unsur
intrinsik dan ekstrinsik pada puisi, kedua unsur tersebut membangun cerita atau
naskah di dalam prosa. Unsur intrinsik pada prosa terdiri dari tema, amanat, alur,
tokoh, latar belakang, sudut pandang, dan bahasa. Sementara unsur ekstrinsik
berhubungan dengan unsur sosial, latar belakang, masa lalu, dan lain-lain.
3.
Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik
Drama
Terakhir, di dalam drama
memiliki unsur intrinsik yaitu tema, plot, tokoh, karakter, dialog, dan latar.
Teori-teori Sastra
Teori sastra dibagi
menjadi empat dan akan dijelaskan di bawah ini.
1.
Teori Psikoanalisis Sastra
Teori ini menganggap
bahwa karya sastra sebagai symptom atau gejala dari pengarangnya yang memiliki
konflik tersendiri yang dipandang sebagai pencerminan atau representasi dari
konfliknya tersebut. Meski demikian, biasanya hasrat pengarang agak terkekang
dalam ketidaksadaran karya.
2.
Teori Sastra Struktural
Objek kajian teori ini
tidak memperlakukan sebuah karya sastra sebagai objek kajiannya, akan tetapi
mengatur hubungan dari berbagai unsur dalam teks sastra sehingga unsur tersebut
berkaitan satu sama lain.
3.
Teori Sastra Feminis
Teori ini sebagai
cerminan realitas sosial patriarki yang bertujuan untuk membongkar anggapan
patriarkis yang tersembunyi melalui gambaran atau citra perempuan di dalam
karya sastra.
4.
Teori Sastra Struktural
Teori ini mengkaji
hubungan karya sastra dengan resepsi atau penerimaan pembaca. Dalam pandangan
di teori ini, karya sastra memiliki makna tidak bisa dipahami melalui teks
sastra, melainkan hanya dapat dipahami dalam konteks pemberian makna.
Aliran Sastra
Ada tiga aliran sastra di
Indonesia, yaitu sebagai berikut.
a.
Idealisme
Aliran ini mengemukakan
bahwa dunia ide, cita-cita, dan harapan menjadi dunia utama yang dapat dituju
dalam pemikiran manusia. Alirannya dibagi menjadi lima jenis, yaitu:
romantisme, ekspresionisme, mistisisme, surealisme, dan simbolisme.
b.
Materialisme
Aliran ini memiliki
keyakinan bahwa segala sesuatu yang bersifat kenyataan dapat diselidiki dengan
akal manusia. Aliran materialisme dibagi menjadi empat, yaitu: realisme,
impresionisme, naturalisme, dan determinisme.
c.
Eksistensialisme
Aliran ini merupakan
aliran yang muncul akibat ketidakpuasan atas dikotomi aliran idealisme dan
materialisme dalam memaknai kehidupan.
3.
KARAKTERISTIK
TEKS SASTRA
Karakteristik utama yang
memntuk berbagai atau harus sesui dengan berbagai teks sastra yang akan di
sajikan, yaitu.
a)
Niat puisi
Karya sastra memberikan pengalama estetisa
kepada pembacanya. Ini bukann tentang memperoleh pengetahua khusus seperti yang
dapat terjadi dalam manual suatu peralatan, tetapi tentang menagkap pengalaman
yang unik dan berbeda.
b)
Subyektivitas
Ini bukan teks bjektif yang melekat pada
kenyataan, tetapi umumnya membahas topik dari sudut pandang yang orisinal dan
mencolok. Semangat zama dengan cara tertentu menangkap semua kekhasan yang
terkait dengan perasaan suatu peradaban atau masyarakat secara keseluruhan,
selama priode waktu tertentu.
c)
Bahasa
Selama pelaksanaan teks sastra, ia dapat
membiarkan dirinya melanggar aturan tata bahasa (sesuatu yang sangat umum dalam
puisi), sehingga kita dapat berasumsi bahwa gaya setiap peulis mendefinisikan
dia sebagai seniman sastra.
d)
Persen
Yang membuat seseorang membaca karya
sastra seperti novel hanyalah karna ingin membacanya. Kemungkinan tidak ada
yang dapat anda melakukannya utuk hiburan.
e)
Fiksi
Tidak seperti teks non
sastra yang di dasarkan pada konteks nyata,ini melakukan sebaliknya, fiksi
adalah titik awal jadi dalam kisah- kisah fiksi ini diceritakan yang bersal
dari pikiran penulis dan denga demikian melampaui cara khususnya melihat dunia.
f)
Verisimilitude
Bahka jika cerita yang
diceritakan tidak benar,itu bisa dipercaya. Misalkan ketika seseorang membaca
buku fiksi, sebuah perjanjian dibuat antara pembaca dan penulis,di mana yang
pertama setuju untuk membaca karya itu seolah-olah itu benar sebagai gatinnya,
peulis menjamin untuk membangun sebuah cerita di mana karya seni di pertahakan
sampai akhir.
g)
Karekter peniru
Sebuah teks sastra meniru
realitas di mana anda seharusnya. Dengan kata lain, terletak di lingkungan
tertetu, pada waktu atau tempat tertetu ini menempatkan pembaca dalam konteks
yang dapat di kenali bagianya.
h)
Kekekalan
Teks sastra tidak
memiliki masa kadeluarsa seperti halnya berita. Sebaliknya mereka hidup dari
waktu ke waktu dan di bagi antar generasi, melihat mereka sebagai bagian yang
sangat berharga dan signifikan untuk generasi mendatang .
i)
Gaya bebas
Kebebasan
berkreasi merupakan salah satu prinsip yang megatur jenis teks ini baik bentuk
maupun gaya atau nadanya dipilih sesui kehendak pengarang, sehingga ia dapat
memilih untuk mengekspresikan dirinya dalam cara senang, sedih, ironis, pahit,
semua pilihan itu mungkin.
j)
Hasilkan emosi
Membaca
teks sastra seperti novel, cerita atau puisi menghasilkan emosi yang berdeda.
Misalnya ketika kita membaca puisi kita merasa terharu dan bersemangat, atau
ketika kita membaca cerita anak-anak, kita bisa tertawa sastra membangkitkan
kita.
Komentar
Posting Komentar