Pendekatan mimetik,pragmatik dan ekspresif
Pendekatan mimetik,pragmatik dan ekspresif
1. A. Pendekatan Pragmatik
Secara umum pendekatan pragmatik adalah pendekatan kritik sastra yang ingin memperlihatkan kesan dan penerimaan pembaca terhadap karya sastra dalam zaman.
Sedangkan menurut para ahli mendefinisikan pendekatan pragmatik adalah sebagai berikut:
1. Menurut Teeuw, 1994 teori pendekatan pragmatik adalah salah satu bagian ilmu sastra yang merupakan pragmatik kajian sastra yang menitik beratkan dimensi pembaca sebagai penangkap dan pemberi makna terhadap karya satra.
2. Relix Vedika (Polandia), pendekatan pragmatik merupakan pendekatan yang tak ubahnya artefak (benda mati) pembacanyalah yang menghidupkan sebagai proses konkritasi.
3. Dawse dan User 1960, pendekatan pragmatik merupakan interpensi pembaca terhadap karya sastra ditentukan oleh apa yang disebut “horizon penerimaan” yang mempengaruhi kesan tanggapan dan penerimaan karya sastra.
b. Prinsip-prinsip dasar pendekatan Pragmatik
1. Otonomi karya sastra dianggap tidak relevan dalam kajian karya sastra, karena terlalu menganggap karya sastra sebagai struktur yang otonom. Padahal karya sastra tersebut tidak mempunyai kewujudannya sendiri sampai dibaca. Karena itu untuk dapat memahami sebuah karya sastra, pendekatan pragmatik tidak terlalu terikat pada struktur sastra semata, melainkan juga kepada faktor yang ada pada diri pembaca secara
kontekstual. Oleh karena itu, bentuk telaahnya kompleks daripada pendekatan struktural yang hanya tertuju pada bangun struktur saja.
2. Pendekatan pragmatik memkitang karya sastra sebagai artefak, pem-bacalah yang menghidupkannya melalui proses konk-retisasi. Karya sastra hanya menyediakan tkita atau kode makna, sedangkan makna itu sendiri diberikan oleh pembaca. Karya sastra tidak mengikat pembaca, tetapi menyediakan tempat yang kosong untuk diisi oleh pembaca. Maksudnya adalah bahwa teks sastra seperti puisi tidak pernah mempunyai makna yang terumus dengan sendirinya, sehingga diperlukan tin-dakan pembaca untuk merumuskannya.
3. Pembaca bukanlah pribadi yang tetap dan sama, melainkan sela-lu berubah dan berbeda. Oleh karena pembaca dalam melakukan proses pemahaman dipengaruhi oleh horison penerimaannya, maka subjektivitas pembaca mungkin berbeda antara satu dengan lainnya. Itulah sebabnya teknik telaahnya pragmatis dan dialektik.
4. Teks sastra selalu menyajikan ketidakpastiaan makna, sehingga memungkinkan pembaca untuk memaknai dan memahaminya secara terbuka lebar (Teeuw 1984; Junus 1985; Salden 1986; dan Jefferson & Robey 1988). Ketidakpastiaan iitulah mengapa pangkal tolak telaah pendekatan pragmatik ini dalam mengapresiasi karya sastra pada persepsi pembaca.
c. Karakteristik Pendekatan Pragmatik dalam Menelaah Karya Sastra
1. Asumsi dasar pendekatan pragmatik memkitang bahwa karya sastra sesuatu yang bersifat artefak. Ia merupakan suatu benda yang belum mempunyai jiwa, dan baru mempunyai jiwa bila dinikmati atau dipahami.
2. Bentuk telaah kompleks, karena dalam menentukan makna atau unsur intrinsik, melainkan juga unsur ekstrinsik seperti pengarang, pembaca dan genetik karya sastra.
3. Dalam menelaah, unsur yang menjadi objek telaah mencakup seluruh unsur, baik fisik maupun unsur batin dan unsur-unsur lain yang dapat dijadikan acuan untuk mengkongkretisasikan makna yang abstrak.
4. Proses telaah dimulai dari resepsi personal pembaca keseluruhan bagian dan mencari hubungan struktur bagian kemudian menempatkan struktur keseluruhan menjadi struktur bagian dalam struktur yang lebih besar untuk dapat dikonkretisasikan melalui proses redeskripsi.
5. Teknik telaah pragmatis dan dialektik, yaitu dengan melibatkan pengalaman pembaca, pengarang, di samping unsur intrinsik yang menjadi acuan telaah.
6. Dasar pertimbangan dalam penentuan makna adalah perpaduan unsur intrinsik dengan unsur ekstrinsik serta faktor genetik dan pengalaman yang dipunyai pembaca.
7. Pangkal tolak telaah dari resepsi pembaca terhadap unsur bangun karya sastra.
8. Esensi karya sastra adalah makna setiap unsur, hubungan antara unsur dan keterpaduannya dihubungkan dengan konteks kesemestaan dan sistem kognisi pembaca.
9. Unsur pengarang dan pembaca dipertimbangakan dalam menelaah sebagai bagian dari genetik untuk kesempurnaan makna.
2.B.Pendekatan Ekspresif
Pendekatan ekspresif adalah cara menilai karya sastra dengan cara menghubungkan karya satra dengan pengarangnya.
Pendekatan ekspresif ialah suatu pendekatan yang lebih mendasar pada pengarang sebagai pencipta karya satra tersebut dan lebih menitik beratkan kajiannya pada ekspresi perasaan dan temperamen penulis.
Pendekatan ekspresif tersebut mengenai batin dan perasaan seseorang yang kemudian di ekspresikan dan dituangkan kedalam bentuk karya satra dan tulisan hingga membentuk sebuah karya sastra yang bernialai rasa tersendiri, dan menurut isi kandungan yang ingin disampaikan oleh pengarang ( berupa karya seni).
c. LANGKAH-LANGKAH DALAM MENGAPLIKASIKAN PENDEKATAN EKSPRESIF
1.Menentukan puisi yang akan diapresiasiPuisi yang akan diapresiasi ditentukan berdasarkan keinginan dan pengetahuanyang kita miliki.
2.Membaca puisi tersebut secara berulang-ulang dan menghayatinyaDengan membaca puisi secara berulang-ulang pembaca akan dapat memahamidan menghayati makna puisi.
3.Mengapresiasi puisi dan menemukan keindahannyaDalam mengapresiasi puisi dan menemukan keindahannya, pembaca akanmenggunakan pengetahuannya yang berhubungan dengan apresiasi puisi secaraekspresif. Pembaca menandai bagian puisi yang dianggap terdapat keindahan didalamnya.
4.Mencatat hasil akhir apresiasi puisi berupa simpulanHasil dari langkah ketiga ditulis dalam bentuk simpulan, yang di dalamnyaharus sesuai dengan analisis pada langkah ketiga.
3.C. Pendekatan Mimetik
Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang mengkaji karya sastra dengan cara memahami hubungan karya sastra dengan realitas atau kenyataan. Kata mimetik berasal dari kata mimesis (bahasa Yunani) yang berarti tiruan. Dalam pendekatan ini karya sastra dianggap sebagai tiruan alam atau kehidupan (Abrams, 1981).
Pengertian mimetik menurut para ahli:
a. Plato Mengungkapkan bahwa sastra atau seni hanya merupakan peniruan (mimesis) atau pencerminan dari kenyataan.
b. Aritoteles Ia berpendapat bahwa mimetik bukan hanya sekedar tiruan, bukan sekedar potret dan realitas, melainkan telah melalui kesadaran personal batin pengarangnya.
c. Raverzt Berpendapat bahwa mimetik dapat diartikan sebagai sebuah pendekatan yang mengkaji karya sastra yang berupay auntuk mengaitkan karya sastra dengan realita satau kenyataan.
d. Abrams Mengungkapkan pendekatan mimetik adalah pendekatan kajian sastra yang menitik beratkan kajiannya terhadap hubungan karya sastra dengan kenyataan di luar karya sastra.
d. Teori Mimetik
tiga metode yang dapat digunakan dalam kritik mimetik, yaitu:
1. kepada kelompok masyarakat tertentu, terutama masyarakat yang disebut dalam karya sastra diberi angket tentang keadaan sosio-budaya masyarakatnya, baik masa lalu maupun masa kini. Angket diolah secara kualitatif, yang ada dalam karya sastra tersebut.
2. Dengan menghubungkan suatu unsur yang ada dalam karya sastra dengan unsur tertentu bersamaan dengan yang terdapat dalam masyarakat. Sejauh mana unsur-unsur itu benar-benar berfungsi dalam karya sastra, sejauh itu pula hubungan antara karya sastra dengan masyarakat.
3. Kepada anggota masyarakat tertentu yang diminta membaca karya sastra, diberi beberapa pertanyaan. Pertanyaan diarahkan kepada masalah sosial yang telah bergeser atau hilang dalam masyarakat. Pengolahan secara kualitatif akan dapat menjawab tentang hubungan karya sastra dengan keadaan sosialnya.
Komentar
Posting Komentar