Pendidikan Sastra, Materi dan Strategi membelajarkan sastra.

 PENDIDIKAN SASTRA


Pendahuluan

Istilah sastra pendidikan, yaitu satra yang bersifat mendidik, sastra didaktis daripada sastra pendidikan. Sastra didaktis dibatasi sebagai karya sastra  
yang didesain utuk menjelaskan suatu cabang ilmu, baik yang bersifat teoretis maupun
praktis, atau mungkin juga untuk mengukuhkan suatu tema atau doktrin moral, religi,
atau filsafat dalam bentuk fiksi, imajinatif, persuasif, dan impresif (Abrams, 1981). 

Pembelajaran sastra merupakan bagian dari pembelajaran bahasa. Dimasukkannya pembelajaran sastra ke dalam pembelajaran bahasa Indonesia kiranya dapat dimaklumi, karena secara umum, sastra adalah segala sesuatu yang ditulis. Pengertian semacam itu dianggap terlalu luas dan juga terlalu sempit. Dianggap terlalu luas karena, dengan demikian, semua buku termasuk sastra. Dianggap terlalu sempit dengan keberatan bahwa macam balada yang dinyanyikan dan cerita yang dibacakan, dengan demikian, tidak termasuk dalam sastra (Sumaryadi, 2008).


Pada proses pembelajaran sastra tentunya melibatkan guru sastra (dalam hal ini guru bahasa Indonesia) sebagai pihak yang mengajarkan sastra, dan siswa sebagai subjek yang belajar sastra. Dalam pembelajaran sastra ada suatu metode –sebagai suatu alternatif—yang menawarkan keefektifan kerja guru bahasa Indonesia. Jika berbicara masalah metode tidak dapat lepas dari masalah pendekatan atau ancangan (approach) yang menurunkan metode (method). Untuk selanjutnya, suatu metode ternyata akan menyarankan penggunaan teknik-teknik tertentu pula. Dengan demikian, secara hirarkis akan dikemukakan adanya tiga tataran, yaitu: pendekatan (approach), metode (method), dan teknik (technique).

Pembahasan 
Istilah sastra pendidikan, yaitu satra yang bersifat mendidik, dalam tulisan ini
muncul untuk kepentingan judul semata. Dalam konstelasi sastra, kita lebih mengenal
sastra didaktis daripada sastra pendidikan. Sastra didaktis dibatasi sebagai karya sastra
yang didesain utuk menjelaskan suatu cabang ilmu, baik yang bersifat teoretis maupun
praktis, atau mungkin juga untuk mengukuhkan suatu tema atau doktrin moral, religi,
atau filsafat dalam bentuk fiksi, imajinatif, persuasif, dan impresif (Abrams, 1981). Oleh
sebab itu, kita dapat menyebut contoh kongkret, seperti novel filsafat Dunia Sophie karya
Jostein Gaarder atau sebagian besar karya , Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Pipiet Senja,
Gola Gong dan Sakti Wibowo sebagai penulis sastra didaktis; terlebih- lebih dalam sastra
yang ditulisnya itu disertakan embel-embel sastra islami, novel remaja islami, atau
penuntun remaja islami. Di deretan rak toko buku pun muncul antologi puisi didaktis ,
seperti Puisi Anak Soleh: Cinta Tanah Air karya Helmidjas Hendra dengan keterangan
bahwa puisi-puisi di dalamnya sangat cocok untuk anak TK islami, Tsanawiyah, Aliyah,
dan Pesantren.

Sastra didaktis akan lebih luas jangkauannya apabila kita sadari bahwa contoh di
atas hanya menjelaskan salah satu sastra keagamaan, yaitu Islam, Apabila kita selidik
tentu ada juga sastra kristiani, hinduisme, buddhaisme, dan sebagainya.
Selain sastra didaktis kita pun mengenal sastra propaganda, yang oleh Abrams
(1981) keduanya dianggap ekuivalen. Dengan catatan, sastra propaganda ditulis untuk
menggerakkan pembaca sehingga mengambil sudut pandang atau langsung bertindak
sesuai dengan isu politik atau moral yang ditawarkan. Dengan demikian, karya sastra
yang ditawarkan oleh Mas Marco Kartodikromo dan Semaun (yang menyebarkan paham
sosialisme pada tahun 1920-an), drama-drama di zaman Jepang, dan produk sastra Lekra
di tahun 60-an termasuk ke dalamnya. Dalam kerangka lain, kedua subgenre sastra ini
disebut juga dengan sastra terlibat atau litterature-engagee karena pengarang melibatkan diri terhadap penyebaran politik atau ideologi yang diyakininya.  
Dari uraian di atas, kita sangat paham mengapa sastra yang demikian tidak
langsung dapat dijadikan bahan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah. Di
zaman Belanda sebagiannya ada yang dicap sebagai ―bacaan liar dan setelah merdeka
sebagian dikategorikan ke dalam sastra yang dilarang. Jadi, penyebutan sastra didaktis
tidak serta merta berkaitan dengan sastra yang mengajarkan nilai-nilai adiluhung bangsa,
meskipun harus diakui, sastra yang bernilai adiluhung bangsa,merupakan bagian dari
sastra didaktis. Dengan menggunakan kerangka Goenawan Mohamad (1982) pada saat menjelaskan posisi sastra keagamaan, kita dapat menyimpulkan bahwa sastra didaktis— 
islami/propaganda/tendens/terlibat—merupakan sastra yang mengusung sejumlah
masalah dan menjadikan agama, ideologi, atau moral tertentu yang diyakini
pengarangnya sebagai jawaban atau solusi akhir.

Komentar

Postingan Populer